Scroll Untuk Lanjut Membaca

​AMPANA KOTA, BTN — Keluhan masyarakat di Kecamatan Ampana Kota dan Ratolindo, Kabupaten Tojo Una-Una (Touna) terkait kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite terus meluas dalam beberapa hari terakhir. Di tengah kepanikan warga, harga Pertalite di tingkat pengecer melambung tinggi hingga menyentuh angka Rp15.000 per liter. Kondisi ini memicu kekecewaan publik, terutama karena lonjakan harga terjadi di saat pemerintah daerah menegaskan bahwa ketersediaan stok BBM sebenarnya dalam kondisi mencukupi. 15/10/2026

​Akar masalah gangguan pelayanan BBM ini dipicu oleh musibah kebakaran fasilitas mesin pompa di SPBU Bailo beberapa hari lalu. Terhentinya operasional pengisian di SPBU tersebut langsung berdampak pada penumpukan antrean warga dan memicu kelangkaan pasokan BBM secara lokal di kawasan Ampana dan sekitarnya.

​Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una melalui Kepala Bagian Ekonomi dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda Touna, Abdurrahman Labanu, mengonfirmasi bahwa kendala teknis menjadi penyebab utama terhambatnya penyaluran Pertalite. Pihaknya memastikan proses penanganan sedang berjalan agar pasokan kembali normal. “Gangguan penyaluran terjadi akibat pompa yang terbakar. Saat ini tim teknisi sedang melakukan pemulihan dan perbaikan terhadap fasilitas tersebut,” terang Abdurrahman.

​Pemkab Touna mengimbau agar masyarakat tetap tenang, tidak panik, serta menghindari aksi panic buying atau pembelian berlebihan selama proses perbaikan sarana SPBU berlangsung. Pemerintah optimistis, begitu fasilitas pompa selesai diperbaiki, alur pelayanan BBM kepada masyarakat akan kembali pulih dan antrean panjang dapat terurai.

​Secara keseluruhan, Kabupaten Tojo Una-Una ditopang oleh enam unit SPBU. Meskipun SPBU Bailo mengalami gangguan fatal akibat kebakaran, lima SPBU lainnya dilaporkan tetap beroperasi secara normal. Namun, ketersediaan di SPBU lain ternyata belum sepenuhnya mampu meredam gejolak kelangkaan di tingkat konsumen harian.

​Kondisi lapangan ini membuktikan bahwa kecukupan stok di atas kertas tidak selalu berbanding lurus dengan kemudahan akses warga dalam mendapatkan BBM secara riil. Ketimpangan antara pasokan teoretis dan distribusi riil inilah yang mendesak untuk segera dievaluasi oleh instansi berwenang melalui inspeksi dan pengawasan langsung di lapangan.

​Di sisi lain, fenomena melonjaknya harga Pertalite hingga Rp15.000 per liter—bahkan disinyalir lebih mahal di area pelosok desa—menjadi sorotan tajam. Masyarakat mempertanyakan celah permainan harga oleh oknum pengecer yang memanfaatkan momentum kelangkaan untuk meraup keuntungan sepihak di atas kesulitan warga.

​”Jika stok BBM di SPBU dinyatakan aman dan harganya sesuai HET, apa dasar para pengecer menaikkan harga hingga lebih dari dua kali lipat?” keluh salah seorang warga Ampana dengan nada kecewa. Suara masyarakat ini menegaskan perlunya tindakan tegas dari Pemkab dan aparat penegak hukum untuk menertibkan rantai distribusi eceran yang dinilai liar.

​Informasi lapangan yang dihimpun oleh penyiar RRI Ampana, Rahmawati Tane, makin mempertegas tingginya dinamika kesulitan warga dalam memperoleh BBM. Hal ini menuntut adanya transparansi publik dari pihak otoritas terkait kondisi riil pasokan di setiap SPBU, guna mencegah simpang siur informasi dan dugaan praktik penimbunan BBM.

​Masyarakat Kabupaten Tojo Una-Una kini menaruh harapan besar agar Pemkab Touna, Pertamina, serta aparat kepolisian turun tangan secara terpadu. Pengawasan ketat pada pola distribusi, verifikasi harga eceran, hingga percepatan perbaikan sarana SPBU Bailo menjadi kunci utama untuk memulihkan stabilitas pasokan BBM dan mengakhiri keresahan warga.

Ahmad Tuliabu.