LOURA, BTN – Tersembunyi di balik lereng bukit di bawah Kampung Bondo Kapubbu, Desa Karuni, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), tersimpan sebuah potensi wisata yang belum terjamah: Batu Penyu. Meski memiliki nilai sejarah tinggi dan visual yang unik, situs ini seolah luput dari perhatian pemerintah maupun pengelola pariwisata daerah. 05/05/2026
Batu raksasa ini memiliki morfologi yang menyerupai tempurung penyu, terutama saat dilihat dari sisi barat pantai. Keunikan ini akan semakin tampak jelas ketika air laut sedang pasang, memberikan pemandangan alam yang eksotis dan simbolis.
Bagi warga lokal, Batu Penyu bukan sekadar formasi alam. Objek ini diyakini sebagai peninggalan leluhur yang membawa narasi sejarah dan cerita rakyat turun-temurun. Sayangnya, meski menyimpan nilai budaya yang kuat, situs ini belum masuk dalam agenda pelestarian maupun program pengembangan desa sebagai situs bersejarah.
Berdasarkan pantauan lapangan pada Senin (4/5/2026), akses menuju lokasi masih cukup menantang. Belum ada papan informasi, penunjuk jalan, maupun fasilitas penunjang bagi wisatawan. Kondisi di sekitar situs juga dinilai kurang terawat karena belum adanya manajemen kebersihan yang rutin dari masyarakat setempat.
Tokoh adat Bondo Kapubbu, Ngongo Rato, menyayangkan kondisi ini. Menurutnya, Batu Penyu memiliki “nilai jual” tinggi jika dikelola dengan serius.
Jika saja masyarakat dan pemerintah memberikan perhatian, lokasi ini bisa menjadi objek wisata yang bermanfaat bagi ekonomi warga. Sangat disayangkan jika potensi sebesar ini diabaikan,” ujar Ngongo Rato.
Masyarakat berharap agar Pemerintah Desa Karuni dan Dinas Pariwisata Kabupaten Sumba Barat Daya segera turun tangan untuk melakukan pendataan dan pemantauan terhadap destinasi potensial ini. Pengabaian terhadap objek wisata seperti Batu Penyu dinilai menjadi salah satu faktor yang menghambat kemajuan wilayah SBD.
”Kami mengajak pemerintah untuk melihat langsung potensi ini. Membangun pariwisata adalah investasi masa depan. Jangan sampai daerah kita tertinggal hanya karena kita abai terhadap kekayaan alam dan budaya yang kita miliki,” tambah Ngongo Rato dengan penuh harap.
Pembangunan infrastruktur dasar dan promosi yang tepat diharapkan dapat mengubah Batu Penyu dari sekedar tumpukan batu bersejarah menjadi destinasi unggulan baru di Pulau Sumba.
**** Berantas TipikorNews.co.id****






