BALANTAK UTARA –BTN 06/04/2026- Narasi yang dibangun oleh segelintir oknum elit desa dan kecamatan di media sosial melalui akun Official Radar Sulteng terkait pembelaan terhadap PT Teku Sirtu Utama (TSU) adalah bentuk nyata dari pengkhianatan terhadap rasa keadilan masyarakat. Menyebut kekhawatiran warga sebagai “sentimen sosial” yang “tidak rasional” bukan hanya menyakitkan, tapi merupakan upaya sistematis untuk memutihkan dosa lingkungan di Desa Batu Mandi dan Pangkalasean.
Kami menyampaikan sanggahan keras dan kritis sebagai berikut
Pernyataan Ketua BPD Simeon Bintang yang menyebut aktivitas PT TSU “jauh” dan “dibatasi pegunungan” adalah logika menyesatkan. Tambang Galian C yang menguliti perbukitan atau pegunungan secara otomatis mengubah siklus hidrologi kawasan tersebut.
Ketika puncak bukit dikupas, daya serap air hilang. Air hujan yang seharusnya meresap ke tanah justru berubah menjadi aliran permukaan (run-off) yang masif.
Apakah para tokoh ini punya sertifikat ahli geologi sehingga berani menjamin bahwa pengerukan di sisi Timur tidak berdampak pada tekanan air di sisi Barat? Jangan menggunakan “jarak” sebagai tameng untuk menutupi dampak sistemik kerusakan lingkungan.
Sangat memuakkan melihat Ketua BPD, Tokoh Agama, hingga Pemerintah Kecamatan berbondong-bondong menjadi “Humas Gratisan” bagi PT TSU.
Sejak kapan tugas BPD dan Aparat Desa beralih fungsi dari pengawas menjadi pembela perusahaan? Bukannya menuntut audit lingkungan independen atau mendesak Corporate Social Responsibility (CSR) untuk korban banjir, kalian justru sibuk membersihkan nama perusahaan di media sosial.
Ada kepentingan apa? Apakah kenyamanan dari pihak perusahaan jauh lebih manis daripada lumpur yang merendam tempat tidur warga kalian sendiri?
Klaim bahwa banjir “murni faktor alam” karena curah hujan tinggi adalah argumentasi pengecut. Curah hujan adalah variabel tetap, tapi kapasitas daya tampung alam adalah variabel yang berubah akibat aktivitas tambang.
Jika gelas tumpah saat diisi air hujan, jangan salahkan hujannya, tapi lihat siapa yang sudah meretakkan gelasnya!
Sebelum ada galian C, apakah banjir separah ini terjadi setiap pekan? Jika tidak, maka “manusia” dan “kebijakan” lah penyebabnya, bukan Tuhan atau alam. Stop menyalahkan takdir atas keserakahan industri!
Mengunggah narasi pembelaan dengan label “Media Orang Cerdas” adalah bentuk manipulasi psikologis untuk membuat warga yang protes seolah-olah “bodoh” atau “tidak rasional.”
Justru orang cerdas akan bertanya, mengapa perusahaan galian C bisa beroperasi dengan tenang sementara rakyat di bawahnya was-was setiap kali langit mendung?
Kami menantang pihak-pihak yang membela PT TSU untuk membuka dokumen Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) secara transparan ke publik, bukan sekedar testimoni “katanya” di kediaman pribadi yang nyaman.
Kami mengingatkan kepada seluruh aparat yang mendadak jadi “pembela perusahaan” Anda digaji oleh negara untuk melayani rakyat, bukan untuk menjadi benteng bagi pengusaha galian C. Jangan biarkan jabatan kalian dijadikan “stempel” untuk melegitimasi kerusakan lingkungan.
Jika hari ini kalian membela perusahaan dengan alasan “tidak ada bukti sedimen,” tunggu sampai alam sendiri yang mengirimkan “buktinya” dalam skala yang lebih besar. Saat itu terjadi, video call dengan Gubernur pun tidak akan mampu membendung air mata rakyat yang kehilangan segalanya.
BERHENTI JADI PEMBELA KORPORASI. KEMBALILAH MENJADI PEMBELA RAKYAT!
Salam Perlawanan,
Suara Rakyat Balantak Utara






