​TAMBOLAKA, BTN – Sebuah potret miris pembangunan menghiasi Dusun Empat, Desa Wee Renna, Kecamatan Kota Tambolaka. Gedung yang dibangun melalui program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) kini berdiri kaku menyerupai “bangunan hantu”. Sudah satu dekade lamanya, aset negara ini ditelantarkan tanpa asas manfaat, memicu kekecewaan mendalam bagi warga setempat. 18/04/2026

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, gedung yang awalnya diproyeksikan sebagai pusat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) tersebut kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Dinding yang mulai kusam dan area yang tidak terawat menjadi saksi bisu kegagalan manajemen aset di tingkat desa.

​Padahal, keberadaan PAUD dan Posyandu sangat krusial untuk meningkatkan kualitas SDM dan kesehatan balita di Desa Wee Renna. Namun, alih-alih menjadi pusat aktivitas, gedung ini justru menjadi simbol “mubazir” yang nyata.

​Kekecewaan warga memuncak melihat aset yang dibangun dengan uang rakyat tersebut dibiarkan rusak dimakan waktu. Salah satu warga berinisial M, mengungkapkan kegeramannya terhadap ketidakpedulian otoritas terkait.

Sudah hampir 10 tahun gedung ini hanya jadi pajangan. Ini benar-benar mubazir! Dulu katanya untuk PAUD dan Posyandu supaya anak-anak di sini punya tempat layak, tapi kenyataannya sekarang kosong melompong. Kami seperti melihat uang negara dibuang percuma ke tanah,” ketus M kepada media.

​Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai pengawasan dan keberlanjutan program pembangunan di Kabupaten Sumba Barat Daya. Mengapa bangunan yang sudah selesai 100% tidak dioperasikan? Apakah ada kendala operasional, atau sekedar pembiaran dari Pemerintah Desa maupun instansi terkait?

​Warga menuntut adanya tindakan nyata, bukan sekedar janji manis saat peresmian. Mereka berharap:

​Pemerintah Desa Wee Renna segera memberikan klarifikasi transparan.

​Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) turun tangan mengevaluasi aset-aset PNPM yang terbengkalai.

​Langkah Revitalisasi segera dilakukan agar gedung tersebut kembali berfungsi sesuai peruntukannya bagi kepentingan masyarakat luas.

​Hingga berita ini dirilis, Pemerintah Desa Wee Renna belum memberikan keterangan resmi terkait alasan di balik mangkraknya gedung tersebut selama satu dekade terakhir. Masyarakat menanti keberanian pemerintah untuk membenahi aset yang telanjur “mati suri” ini.