Sumba Barat Daya (SBD), NTT- BTN–12/11/2025 Niat mulia pemerintah untuk memperbaiki gizi anak sekolah lewat Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) baru saja menorehkan catatan hitam yang memalukan. Pada Selasa siang, 11 November 2025, ruang perawatan di RS Karitas Waitabula dan RSU Reda Bolo berubah menjadi kamp pengungsian massal bagi siswa-siswa tak berdaya.
Ratusan siswa dari SMA Manda Elu dan SMA Alfonsus terkapar, didominasi wajah pucat dan muntah-muntah hebat. Mereka adalah korban terbaru dari apa yang kini patut disebut “tragedi gizi beracun”
Diduga kuat keracunan massal ini setelah menyantap menu MBG yang dibagikan oleh penyedia mitra pemerintah.sehingga ada dugaan Dari Harapan Gizi, Menjadi Ancaman Nyawa
MBG bagi siswa siswi, yang digembar-gemborkan sebagai kebijakan nasional andalan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, seharusnya menjadi solusi untuk stunting, bukan sumber penyakit.
Ironisnya, alih-alih mendapatkan asupan sehat, siswa-siswi ini malah mendapatkan tiket darurat ke rumah sakit.
*Menu siang itu, nasi putih, ayam goreng, dan tempe goreng, berubah menjadi momok.*
“Dia cuma bilang pusing, terus langsung muntah dan lemas. Anak saya bukan kurang gizi, tapi patut diduga keracunan oleh program yang katanya bergizi!” kata Wiata Bulasalah (34), orang tua korban, meluapkan kekecewaan di RS Karitas.
Insiden ini bukan lagi kecelakaan, melainkan pola yang berulang di berbagai daerah, memperlihatkan betapa rapuhnya pengawasan program bernilai triliunan rupiah ini.
*Lalai dan Cacat Sistemik di ‘Dapur Mandiri’*
Fokus kritik kini harus dialamatkan kepada Yayasan Tana Manda Sumba, yang secara terang-terangan disebut sebagai pelaksana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Mandiri dan Mitra Badan Gizi Nasional.
Sebuah label megah untuk sebuah pelaksanaan yang amatir dan membahayakan.
Pertanyaannya menusuk,Mengapa sebuah program gizi nasional, yang diawasi oleh Badan Gizi Nasional, bisa diserahkan kepada penyedia yang jelas-jelas gagal menjamin standar keamanan pangan paling dasar?
Rantai Dingin (Cold Chain) Mati.Makanan dikirim tanpa pendingin (cold chain) di pagi hari, lalu dibiarkan terpapar, suhu SBD yang bisa mencapai lebih dari 33^\circ C selama berjam-jam sebelum disantap. Ini bukan pengabaian, ini kelalaian kriminal dalam penanganan pangan.
Jalur Distribusi ‘Lembek’: Sistem penyaluran yang terlalu panjang dan tanpa inspeksi ketat dari hulu ke hilir menjadi kambing hitam. “Dalam sistem besar seperti ini, setiap mata rantai penting. Kalau salah satu lalai, risikonya bisa fatal.dan Ini bukan kalau, tapi sudah fatal,” kritik seorang pendidik setempat.
“Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya perlu pengawasan tegas! Gejala yang dialami anak-anak menunjukkan keracunan akut berat hingga menggemparkan publik SBD,” tuntut salah satu tokoh masyarakat.
Arogansi Keterlambatan dan Tanggung Jawab Siapa?
Langkah Pemda SBD menangguhkan MBG adalah tindakan yang terlambat,dilakukan setelah ratusan anak menjadi korban.
Pernyataan dari Stephen, salah seorang yang ada pada saat kejadian,menurutnya,sekaligus meminta agar publik tidak buru-buru menyalahkan program sebelum hasil lab keluar,pernyataan ini sangat disayangkan untuk di dengar,ini sepertinya ada upaya pemadam kebakaran retoris untuk melindungi kebijakan, bukan melindungi anak-anak.ucap salah satu orang tua korban keracunan pada media ini 11/11/2025 ditempat kejadian perkara
Kini orang tua korban dan Publik menuntut jawaban, bukan basa-basi ilmiah! Siapa di Dinas Sosial dan Yayasan Tana Manda yang akan bertanggung jawab atas air mata para ibu yang infus telah menancap di tangan siswa-siswa ini?
*Namun hal ini Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, namun trauma dan ketakutan para siswa sudah menjadi korban mental yang nyata.*
Cerita soal makan bergizi kini telah berubah menjadi kenangan buruk dan menakutkan di rumah-rumah warga SBD.
“Niat menyehatkan malah bisa mencelakai,” tegas seorang guru.menurutnya Frasa itu kini menjadi epitaf suram bagi pelaksanaan MBG di Sumba Barat Daya.
Tibo






