SUMBA BARAT DAYA – BTN 31/12/2025-Suasana kekeluargaan di Desa Naga Mutu, Kecamatan Kodi Utara, mendadak berubah menjadi horor pada Selasa malam (30/12/2025). Sebuah pesta minuman keras (miras) yang digelar di kediaman Tinus Bani berakhir tragis setelah Lukas Lota Kahupu, yang akrab disapa Lota Mbapi Wora, bersimbah darah akibat tikaman senjata tajam.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Namun, di balik genangan darah dan 12 jahitan di tengkuk korban, terselip fakta yang mengiris rasa keadilan. Hingga berita ini diturunkan, pelaku yang diduga kuat adalah Rangga Beni (saudara tiri pemilik rumah) masih bebas berkeliaran.

​Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 19:00 WITA ini bermula dari kumpul-kumpul santai sambil menenggak alkohol. Namun, pengaruh miras memicu adu mulut hebat. Tanpa pikir panjang, pelaku melampiaskan emosinya dengan menghujamkan pisau ke arah belakang kepala (tengkuk) korban yang saat itu tengah duduk santai.

​Korban yang menderita luka robek serius langsung dilarikan ke Puskesmas Kori untuk mendapatkan penanganan medis darurat.

​Hal yang paling menyita perhatian publik dan memicu kritik tajam adalah dugaan kehadiran aparat di lokasi kejadian. Menurut kesaksian warga di tempat kejadian perkara (TKP), terdapat dua anggota Polsek Kori berinisial D dan rekannya yang disinyalir ikut serta dalam lingkaran pesta miras tersebut.

​Kehadiran aparat yang seharusnya mencegah terjadinya tindak pidana, justru memicu tanda tanya besar. Mengapa saat penikaman terjadi, tidak ada tindakan preventif? Lebih parah lagi, hingga saat ini pelaku yang berprofesi sebagai petani itu dikabarkan belum diamankan, padahal posisinya masih diketahui berada di sekitar TKP.

​Upaya konfirmasi yang dilakukan media melalui pesan WhatsApp kepada Kapolsek Kori tidak membuahkan hasil. Sang Kapolsek enggan membalas, menciptakan kesan adanya upaya tutup mata atau perlindungan terhadap “rekan minum” pelaku.

​”Pelaku belum diamankan ke Kantor Polsek Kori untuk proses hukum. Kami keluarga korban hanya ingin keadilan, jangan karena ada kedekatan atau kehadiran oknum di sana, kasus ini jadi menguap,” tegas salah satu keluarga korban dengan nada kecewa.

​Publik kini menunggu, apakah institusi kepolisian di Sumba Barat Daya masih memiliki taring untuk menangkap pelaku penganiayaan berat, ataukah hukum memang tumpul jika sudah bercampur dengan aroma miras dan dugaan keterlibatan oknum?

​Laporan,Tibo (Kaperwil BTN NTT)