Oleh: Irwanto Diasa (Simbil)
BULAGI — BTN 01/03/2026-Angin laut di pesisir Desa Unu, Kecamatan Bulagi (sekarang Bulagi Selatan), membawa memori kolektif tentang kejayaan yang pernah mengubah wajah Kabupaten Banggai Kepulauan. Tahun 1995, saat saya masih berusia lima tahun, mata kecil saya menyaksikan sebuah revolusi ekonomi dimulai dari bibir pantai. Rumput laut, atau yang akrab kami sebut “Agar-agar”, bukan sekedar komoditas,ia adalah jawaban atas doa-doa kesejahteraan warga pesisir.
Sejarah masuknya rumput laut di wilayah ini memang menyimpan tabir. Namun, dalam sebuah diskusi mendalam dengan pengusaha senior, “Ko Aek”, terungkap bahwa peran swasta sangat dominan dalam membawa komoditas ini ke Banggai Kepulauan.
Bagi anak pesisir seperti saya, rumput laut adalah sekolah kehidupan. Meski orang tua saya adalah seorang ASN, laut tetap menjadi sandaran ekonomi tambahan. Saya masih ingat betul evolusi metode budidaya yang kami jalani,mulai dari metode Rakit yang sederhana, beralih ke Tarikan, hingga sistem Pirkan yang bertahan hingga hari ini.
Sepulang sekolah, saya dan kawan sebaya tidak hanya bermain. Kami menyisir pantai, memungut remah-remah rumput laut sisa panen yang kami istilahkan sebagai “Tiras”. Dari sisa-sisa inilah, pundi-pundi rupiah kecil terkumpul. Itulah era “Ceme”,sebuah istilah lokal untuk keberuntungan dan keuntungan melimpah yang membuat kata “kemiskinan” seolah lari menjauh dari tanah Bulagi
Jika ada episentrum dari kejayaan ini, maka Desa Montomisan adalah jawabannya. Secara geografis dan ekologis, Montomisan memiliki keunikan yang sulit tertandingi. Bibit rumput laut dari manapun, jika ditanam di sana, akan bermutasi menjadi benih unggul dengan kecepatan tumbuh yang fantastis.
Di sana, ekonomi dan adat menyatu dalam harmoni. Ada kearifan lokal yang melarang membawa makanan modern seperti nasi ke lokasi budidaya. Para petani hanya membawa bekal “makanan tanah” (ubi-ubian). Kesakralan ini seolah menjadi kunci keberkahan alam. Puncaknya, Bupati Irianto Malinggong kala itu mengabadikan kejayaan ini dengan peresmian Monumen Rumput Laut. Banggai Kepulauan pun sempat diklaim sebagai salah satu lumbung rumput laut terbesar di Indonesia Timur, meski seringkali produksinya diklaim oleh daerah lain dalam rantai perdagangan.
Dampak ekonomi dari “Agar-agar” ini sangat masif (Struktur Ekonomi Start-Up). Saya menyaksikan transisi fisik desa,rumah panggung dan dinding bambu runtuh berganti bangunan batu berkeramik. Di balik dinding rumah-rumah baru itu, terpajang foto-foto wisuda. Rumput laut telah berhasil menyekolahkan anak-anak pesisir hingga menjadi Sarjana, ASN, anggota TNI-Polri, hingga pengusaha baru. Ini adalah bukti nyata bahwa komoditas laut mampu mengubah takdir sebuah generasi.
Namun, kejayaan itu kini menyisakan tanya. Penurunan kualitas terjadi secara mendadak. Produksi menurun, dan episentrum berpindah ke Desa Komba-Komba yang relatif lebih bertahan dari anomali laut.
Spekulasi pun liar berkembang. Apakah ini dampak limbah industri dari pulau seberang? Ataukah akibat praktik illegal fishing seperti bom dan potas yang merusak ekosistem? Ataukah sekedar kejenuhan bibit yang butuh penyegaran?
Di sinilah letak kritiknya. Saya teringat janji manis di surat kabar bertahun-tahun lalu tentang “Kultur Jaringan” untuk menghasilkan benih unggul lewat laboratorium. Namun, hingga detik ini, janji itu tetap menjadi catatan di atas kertas. Pemerintah dari masa ke masa seolah hanya “numpang citra” saat produksi sedang di puncak (Top Production), namun gagap dan lamban saat komoditas ini mulai meredup.
Kehadiran rumput laut di masa lalu terbukti bukan hasil dari sebuah desain kebijakan ekonomi yang matang atau “Bidik Misi Ekonomi”, melainkan sekedar komoditas “Aji Mumpung” yang tumbuh secara natural tanpa proteksi pemerintah.
Ke depan, Banggai Kepulauan tidak boleh lagi hanya pasrah menunggu keajaiban alam. Kita memiliki potensi luar biasa.Perikanan budidaya, Lobster, Teripang, hingga sektor darat seperti Cokelat dan Kelapa Unggul. Semua ini membutuhkan sentuhan riset, inovasi produksi, dan keberpihakan kebijakan yang nyata.
Kita butuh pemimpin dan birokrasi yang kreatif, inovatif, dan tidak lamban. Jangan biarkan potensi emas kita hilang tertelan ombak karena ketidakmampuan kita dalam mengelola anugerah Tuhan.
Salam BIDIK MISI!
Irwanto Diasa (Simbil)






