Jakarta, BTN — /9/8/2025 “Hal terbaik dalam hidup sering kali menunggumu di luar zona nyamanmu.”Karen Salmansohn (Pakar Pengembangan Diri dari Amerika)
BURUNG adalah lambang kreativitas, kelincahan, dan kebebasan. Sayapnya dirancang khusus untuk terbang, membantunya bermanuver, berbelok arah, serta mengatur kecepatan dan ketinggian.
Dengan sayapnya, seekor burung dapat meluncur dan terbang tinggi dengan gesit memanfaatkan arus udara.
Namun, semua aktivitas terbang ini dilakukan burung untuk dua tujuan utama: memenuhi kebutuhan hidup dan menghindari ancaman predator.
Lalu, apa yang terjadi jika seekor burung hidup di habitat yang serba nyaman, dengan pasokan makanan melimpah dan tanpa ancaman?
Apakah mereka masih perlu terbang tinggi dan bermanuver di angkasa?
*Tragedi “Wing’s Not to Fly”*
Fenomena ini terjadi pada populasi burung mandar di Pulau Inaccessible, sebuah pulau terpencil di Samudera Atlantik Selatan.
Burung mungil ini beratnya tak sampai seberat telur ayam, hidup bebas dari ancaman predator.
Makanan seperti ngengat, beri, biji, dan cacing dapat mereka temukan dengan mudah hanya dengan berjalan di tanah.
Menurut Dr. Martin Stervander, seorang ahli biologi evolusi dari University of Oregon, nenek moyang burung ini diperkirakan terbang sekitar 2.174 mil dari Amerika Selatan dan mendarat di pulau ini sekitar 1,5 juta tahun lalu.
Namun, karena mereka berada di “zona nyaman” yang serba ada, burung-burung ini secara evolusioner kehilangan kemampuan untuk terbang.
“Seiring waktu, karena seleksi alam, burung ini tidak mengembangkan mekanisme untuk terbang,” kata Stervander.
Tragedi ini menjadi gambaran nyata dari kemerosotan kreativitas dan motivasi yang bisa menimpa berbagai profesi, termasuk jurnalis.
Ancaman bagi Profesi Jurnalisme
Sebagai instruktur jurnalisme, saya melihat fenomena ini sangat relevan dengan kondisi wartawan saat ini.
Meskipun tidak ada data pasti, diperkirakan ada 150 ribu hingga 250 ribu wartawan di Indonesia yang bekerja di sekitar 47 ribu media.
Jika saja 1% dari jumlah ini menjalankan tugas jurnalistik sesuai Kode Etik Jurnalistik (KEJ) di bawah amanah UU Pers No. 40 Tahun 1999, kontribusinya bagi masyarakat dan bangsa akan sangat signifikan.
Mereka akan menjadi garda terdepan dalam menyuplai informasi yang benar dan mengontrol kekuasaan agar tetap berada di jalur yang jujur.
Sayangnya, harapan ini sering kali tidak terwujud. “Zona nyaman” dalam bentuk advertorial, kontrak berita dari pemerintah, uang dari mafia, hingga “recehan” dari instansi-instansi terkait, menjadi obat bius bagi media dan jurnalis.
Akibatnya, ujung pena wartawan menjadi “karatan” karena jarang digunakan untuk menggores kebenaran.
Di Riau, misalnya, dengan 6 ribu media, jumlah ini menjadi beban tersendiri bagi masyarakat. Kondisi diperparah oleh pengelola media yang minim pemahaman jurnalisme.
Mereka mengaku sebagai wartawan, tetapi tidak mampu menulis berita. Inilah tragedi
” *Wing’s Not to Fly”: punya sayap tapi tidak bisa terbang* .
Tantangan dan Kebutuhan Adalah Motivasi
Tantangan dan kebutuhan seharusnya menjadi motivasi yang mendorong seorang jurnalis untuk terbang tinggi menggunakan keterampilan yang dimilikinya.
Namun, jika Anda terlalu lama berada di “zona nyaman”—di mana semua fasilitas diperoleh tanpa kreativitas dan tanpa ancaman—Anda berpotensi kehilangan “sayap” untuk terbang.
Pada akhirnya, Anda akan menjadi jurnalis “pengemis” yang selalu berpenampilan rapi, tetapi kehilangan kehormatan dan integritas.
Apa boleh buat, itulah nasib mereka yang memilih zona nyaman di tengah tuntutan profesionalisme.
*)Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H. adalah Direktur Utama Lembaga Pendidikan Wartawan, Pekanbaru Journalist Center (PJC) dan Master Trainer dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).






