Scroll Untuk Lanjut Membaca

SUMBA TIMUR, BTN  — Di pedalaman Kecamatan Tabundung, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebuah peninggalan leluhur berdiri dalam balutan akar pohon beringin yang menjalar dan menyelimuti sebagian struktur makam. Situs itu dikenal dengan nama Reti Iyang, sebuah makam megalitik yang menyimpan jejak sejarah, tradisi, dan identitas budaya masyarakat Sumba. 13/10/2026

Bukan sekadar makam tua, Reti Iyang memiliki keunikan berupa relief berbentuk ikan yang menghiasi struktur batu makam. Situs yang berada di Desa Praingkareha ini dikaitkan dengan sosok leluhur bernama Umbu Mehanguru Mehataku.

Pemandangan makam yang berpadu dengan akar beringin menghadirkan suasana khas sekaligus menyimpan pertanyaan tentang perjalanan panjang peninggalan tersebut. Di tengah alam pedalaman yang masih alami, Reti Iyang menjadi saksi bisu warisan masa lalu yang hingga kini masih menarik untuk ditelusuri.

Namun, di balik keunikannya, tersimpan pula pekerjaan penting: mendokumentasikan sejarah, mengungkap makna relief, dan memastikan warisan leluhur ini tetap terjaga.

Salah satu ciri paling menonjol dari Reti Iyang adalah relief berbentuk ikan yang terdapat pada makam megalitik tersebut. Bentuk relief ini menjadi bagian penting dari daya tarik situs yang belum banyak dikenal masyarakat luas.

Di sekelilingnya, pohon beringin besar tumbuh dengan akar-akar yang menjalar hingga membingkai sebagian struktur makam. Perpaduan batu megalitik dan akar pohon menciptakan pemandangan yang khas, seolah memperlihatkan bagaimana peninggalan leluhur itu bertahan di tengah perjalanan waktu.

Meski demikian, makna simbolis relief ikan dan sejarah pembangunan makam tersebut masih perlu ditelusuri lebih jauh melalui penelitian serta penuturan para pemangku adat yang memahami tradisi setempat.

Bagi masyarakat, peninggalan semacam ini bukan hanya benda bersejarah, melainkan bagian dari identitas dan hubungan antargenerasi yang perlu dihormati.

Daya tarik Reti Iyang tidak berhenti pada makam megalitik. Di kawasan sekitarnya, terdapat bekas kampung adat dengan sejumlah tiang rumah yang menurut keterangan setempat telah membatu.

Keberadaan peninggalan tersebut menambah kekayaan cerita sejarah yang tersimpan di pedalaman Tabundung. Namun, keterangan mengenai usia, asal-usul, dan proses terbentuknya tiang-tiang tersebut masih memerlukan dokumentasi dan kajian lebih lanjut agar informasi yang disampaikan kepada publik dapat dipertanggungjawabkan.

Penelitian yang melibatkan masyarakat adat, ahli sejarah, dan arkeolog diperlukan untuk menelusuri hubungan antara situs makam, bekas kampung adat, serta tradisi yang berkembang di kawasan itu.

Untuk mencapai Reti Iyang, pengunjung harus menempuh perjalanan trekking yang membutuhkan persiapan fisik dan perlengkapan memadai.

Medan perjalanan menjadi tantangan tersendiri bagi siapa pun yang ingin melihat langsung peninggalan leluhur tersebut. Namun, tantangan itu sekaligus membuka kesempatan untuk mengenal lebih dekat bentang alam dan kekayaan budaya pedalaman Sumba Timur.

Tidak jauh dari kawasan tersebut, terdapat Air Terjun Laputi yang dikenal memiliki tujuh tingkatan serta Danau Laputi yang menyimpan daya tarik alam tersendiri.

Danau itu juga dikenal dalam cerita masyarakat setempat karena keberadaan moa atau belut. Pengetahuan lokal yang berkaitan dengan danau dan kawasan sekitarnya menjadi bagian penting dari kekayaan tradisi yang layak didokumentasikan.

Sementara itu, istilah Appu digunakan sebagai panggilan bagi leluhur perempuan. Makna dan penggunaannya dalam tradisi setempat perlu dipahami melalui penjelasan para pemangku adat agar tidak kehilangan konteks budaya.

Perpaduan situs megalitik, bekas kampung adat, air terjun, dan danau menjadikan kawasan ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata sejarah dan alam berbasis masyarakat.

Keberadaan Reti Iyang memperlihatkan bahwa Sumba Timur memiliki kekayaan budaya yang tidak hanya tersimpan dalam tradisi lisan, tetapi juga hadir dalam peninggalan fisik yang masih dapat dijumpai hingga sekarang.

Namun, potensi tersebut harus diikuti dengan langkah nyata untuk melindungi situs dari kerusakan, memastikan informasi sejarahnya terdokumentasi, dan menjaga nilai sakral yang melekat pada makam leluhur.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait, tokoh adat, serta masyarakat setempat perlu melihat situs ini sebagai bagian dari warisan budaya yang membutuhkan perhatian berkelanjutan.

Pendataan kondisi situs, dokumentasi relief, penelitian sejarah, serta pencatatan cerita turun-temurun dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat upaya pelestarian.

Pengembangan wisata juga tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Kesakralan makam harus dihormati, kondisi lingkungan perlu dijaga, dan masyarakat adat harus dilibatkan dalam setiap keputusan mengenai pemanfaatan kawasan.

Jangan sampai keunikan Reti Iyang hanya menjadi bahan promosi wisata, sementara upaya perlindungan dan pendokumentasian sejarahnya terabaikan.

Reti Iyang bukan sekedar makam berelief ikan yang tersembunyi di balik akar beringin. Situs ini merupakan bagian dari jejak leluhur yang menyimpan potensi pengetahuan tentang sejarah, tradisi, dan identitas masyarakat Sumba Timur.

Sosok Umbu Mehanguru Mehataku, relief ikan, bekas kampung adat, serta cerita masyarakat mengenai kawasan tersebut merupakan bagian dari warisan yang perlu ditelusuri secara cermat.

Kini, tantangannya bukan hanya memperkenalkan Reti Iyang kepada masyarakat luas, tetapi juga memastikan bahwa setiap cerita tentangnya didokumentasikan secara akurat dan setiap upaya pengembangan tetap menghormati masyarakat adat.

Sebab, warisan leluhur bukan hanya peninggalan masa lalu. Ia merupakan bagian dari identitas yang menghubungkan generasi hari ini dengan sejarah yang harus dijaga untuk masa depan.

Reti Iyang layak dikenal lebih luas, tetapi yang lebih penting, warisan leluhur ini harus dijaga sebelum jejak sejarahnya hilang ditelan waktu.

Alex Ratu Peha.