Jakarta, BTN — 12 September 2025 — Rilis berita ini diterbitkan sebagai respons atas fenomena yang berkembang di industri media Indonesia, di mana fungsi pers sebagai “mata dan telinga rakyat” dipertanyakan. 12/09/2025
Berdasarkan pengamatan kami, terdapat indikasi kuat bahwa berita kini cenderung terpolarisasi dan hanya menjadi konsumsi bagi segelintir elite, bukan lagi cerminan suara publik yang berimbang.
Pers Bertransformasi dari Pengawas Menjadi Alat Propaganda?
Teks berita yang seharusnya bersifat objektif dan berimbang, kini semakin terdistorsi oleh kepentingan kekuasaan dan bisnis.
Jurnalisme yang seharusnya berfungsi sebagai pilar demokrasi keempat, kini berisiko kehilangan independensinya.
Hilangnya Independensi:
Sejumlah laporan dan analisis menunjukkan adanya intervensi pihak-pihak tertentu dalam proses editorial.
Akibatnya, berita yang disajikan sering kali berfokus pada narasi yang menguntungkan kelompok tertentu, sementara isu-isu krusial yang menyangkut kepentingan publik justru terpinggirkan.
Wartawan Terjebak dalam Pusaran Kepentingan: Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kualitas berita, tetapi juga pada kesejahteraan dan kebebasan berekspresi para jurnalis.
Mereka sering kali dihadapkan pada dilema etika, di mana idealisme profesional harus berbenturan dengan tekanan dari pemilik media atau pihak-pihak berkuasa.
Implikasi terhadap Demokrasi
Polarisasi pemberitaan ini memiliki dampak serius terhadap kesehatan demokrasi.
Publik, yang seharusnya mendapatkan informasi yang utuh dan beragam untuk membuat keputusan politik yang rasional, kini disuguhi berita yang bias dan seragam.
Ini dapat melemahkan partisipasi publik, memicu ketidakpercayaan terhadap media, dan pada akhirnya, merusak fondasi masyarakat sipil yang kritis.
Seruan untuk Kembali ke Etika Jurnalisme
Menyikapi kondisi ini, kami menyerukan kepada seluruh insan pers untuk kembali berpegang teguh pada Kode Etik Jurnalistik.
Penting untuk memulihkan peran media sebagai penjaga kepentingan publik, bukan sebagai corong kekuasaan.
Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk memastikan bahwa berita tetap menjadi alat pencerahan, bukan alat pemecah belah atau propaganda.
Oleh:
Hermanius Burunaung
Pimpinan Redaksi






