Sumba Barat Daya, BTN – Alun-Alun Kota Tambolaka yang dibangun dengan anggaran cukup fantastis dan berada di jantung Ibu Kota Tambolaka, kini menuai sorotan dan kritik tajam dari masyarakat. 8/07/2026
Bangunan yang digadang-gadang sebagai ikon baru dan ruang publik kebanggaan masyarakat SBD itu justru dinilai belum memenuhi kualitas. Padahal belum genap setahun dinikmati, sejumlah fasilitas di dalamnya sudah mengalami kerusakan.
Masyarakat mempertanyakan hasil pekerjaan yang dikerjakan oleh pihak rekanan/kontraktor yang telah mendapat kepercayaan dari pemerintah.
“Sebagai masyarakat kami merasa heran dan merasa kecewa. Alun-Alun ini dibangun menggunakan uang rakyat. Toh belum setahun dinikmati sudah hancur begini? Dan juga ini tempat masyarakat berolahraga dan rekreasi,” ungkap seorang tokoh masyarakat kepada _Berantas TipikorNews http://Co.id.
Ia melanjutkan, jika kondisinya sudah rusak seperti ini justru akan membahayakan warga yang sedang jogging. “Semestinya pemerintah daerah jangan tinggal diam. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah segeralah memanggil pihak kontraktornya untuk mempertanggungjawabkan,” tegasnya.
Warga juga menilai kerusakan tersebut menjadi bukti kuat adanya indikasi kegagalan konstruksi atau pengurangan spek oleh pihak ketiga. “Area publik ini dengan mobilitas tinggi, seharusnya dirancang dengan ketahanan ekstra,” katanya.
Berdasarkan pantauan _Berantas TipikorNews http://Co.id_ di lapangan, kerusakan terlihat jelas pada beberapa fasilitas vital.
Area Jogging Track yang menjadi pusat aktivitas warga tampak cor-nya retak, permukaan tidak rata, dan material mulai terkelupas. Kondisi itu menjadi pemandangan setiap hari bagi pengunjung.
“Bayangkan, belum setahun pekerjaan telah rampung dikerjakan berdasarkan nomenklatur/tender, fasilitas pada area Alun-Alun tersebut sudah mengalami kerusakan di beberapa titik,” ujar warga.
Kondisi ini memicu reaksi keras dan gelombang protes dari masyarakat SBD. Warga menilai pekerjaan dikerjakan asal jadi dan terkesan hanya mengejar keuntungan semata tanpa mempedulikan mutu. Padahal semestinya ruang ini untuk menghibur, tapi justru menjadi ruang yang membahayakan.
*Desakan ke DPRD dan Audit Fisik*
Mengingat proyek ini menelan anggaran tidak sedikit, masyarakat mendesak pemerintah, terutama DPRD Kabupaten Sumba Barat Daya, untuk segera turun memonitor segmen pekerjaan Alun-Alun.
“Kami minta DPRD memanggil pihak rekanan/kontraktor pelaksana untuk bertanggung jawab. Karena area Alun-Alun yang ada di jantung kota Tambolaka merupakan area street jogging bagi masyarakat SBD maupun masyarakat luar,” ungkapnya.
Lebih lanjut, warga meminta dinas terkait dan lembaga pengawas segera melakukan audit fisik secara menyeluruh terhadap hasil pekerjaan kontraktor. “Kalau bisa agar membuka data mengenai total anggaran yang dihabiskan. Karena pekerjaan Alun-Alun yang dibangun di jantung kota, bukan pekerjaan tambal sulam,” ujarnya.
Ia menutup dengan peringatan. “Jika tidak ada tindak lanjut terkait pekerjaan ini, maka kami sebagai masyarakat akan membawa persoalan ini ke ranah hukum atas dugaan kerugian negara dan kelalaian pekerjaan,” tutupnya.
*Harapan Warga*
Bagi masyarakat, Alun-Alun Tambolaka semestinya menjadi ruang publik yang aman, nyaman, dan menjadi kebanggaan daerah. Namun saat ini justru menimbulkan rasa kecewa karena kualitasnya tidak sesuai harapan.
Hingga berita ini ditayangkan, upaya konfirmasi ke Dinas PUPR SBD dan kontraktor pelaksana masih dilakukan.
_Berantas TipikorNews http://Co.id_






