TAMBOLAKA, BTN — Langkah berani dan penuh air mata kembali diambil oleh keluarga almarhum Goris Bessu. Walaupun penanganan perkara telah dipercayakan kepada tim penasehat hukum, pihak keluarga, terutama anak kandung korban, merasa belum mendapatkan keadilan yang substantif atas kematian misterius sang ayah di wilayah perbatasan Kabupaten Sumba Barat Daya. 25/10/2026
Dengan tekad yang bulat dan rasa penasaran yang mendalam, Elisabeth Veronika Bessu selaku putri kandung almarhum berencana mendatangi kembali Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Sumba Barat Daya. Kedatangan ini dilakukan demi mempertanyakan secara langsung sejauh mana proses hukum serta perkembangan penanganan kasus yang telah berjalan selama bertahun-tahun tanpa kejelasan berarti.
Peristiwa tragis yang merenggut nyawa almarhum Goris Bessu terjadi di wilayah perbatasan kabupaten beberapa tahun silam. Kasus kematian yang tidak wajar ini sejatinya telah dilaporkan secara resmi kepada pihak kepolisian dengan harapan aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas motif di balik peristiwa kelam tersebut serta menemukan pihak yang paling bertanggung jawab.
Namun, ironisnya, hingga hari ini kasus tersebut seolah jalan di tempat dan hampir memasuki tahun ketiga tanpa ada titik terang yang pasti. Hingga saat ini, belum ada penetapan tersangka, belum ada kepastian hukum apakah insiden tersebut murni kecelakaan atau tindak pidana pembunuhan, serta belum pernah dilakukan rekonstruksi perkara di tempat kejadian perkara.
Berbagai upaya maksimal sebenarnya telah ditempuh oleh pihak keluarga, termasuk dengan memberikan kuasa penuh kepada penasehat hukum untuk mengawal proses penyelidikan di Polres Sumba Barat Daya. Keluarga awalnya menaruh harapan besar bahwa keterlibatan kuasa hukum dapat mempercepat gerak penyidik dalam membongkar misteri di balik kematian sang kepala keluarga.
Kendati demikian, kenyataan di lapangan membuat keluarga merasa keadilan masih jauh dari genggaman. Setiap kali pihak keluarga bersama kuasa hukum mendatangi kantor kepolisian untuk menanyakan perkembangan terbaru, jawaban yang diterima selalu serupa dan berulang tanpa adanya Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) yang transparan dan memadai.
Elisabeth Veronika Bessu menegaskan bahwa langkah nekat yang diambilnya bersama keluarga sama sekali tidak bermaksud untuk melangkahi atau mengurangi rasa hormat kepada tim penasehat hukum yang mendampingi mereka. Aksi ini murni lahir dari jeritan hati seorang anak yang merindukan kebenaran serta kepastian hukum atas nasib tragis sang ayah tercinta.
”Walau sudah ada penasehat hukum, kami sebagai anak kandung merasa belum mendapatkan keadilan untuk Bapak. Bapak kami mati misterius di perbatasan, dan hampir 3 tahun kasusnya gelap. Kami sebagai anak tidak bisa tidur tenang,” ungkap Elisabeth Veronika Bessu dengan suara bergetar menahan tangis saat ditemui di kediamannya, Selasa (Oktober 2026).
Ia menambahkan bahwa dirinya bersama keluarga besar tidak akan pernah berhenti berjuang mencari keadilan hingga misteri kematian ayahnya benar-benar terungkap secara terang-benderang. Ketenangan jiwa keluarga baru akan bisa mereka rasakan apabila aparat penegak hukum mampu membongkar fakta hukum yang sebenarnya di balik peristiwa tersebut.
Melalui langkah kedatangan kembali ke Polres Sumba Barat Daya ini, keluarga berharap pihak kepolisian dapat memberikan perhatian serius dan prioritas tinggi terhadap penuntasan kasus ini. Publik Sumba Barat Daya kini turut menantikan komitmen aparat penegak hukum dalam menghadirkan keadilan yang seadil-adilnya bagi almarhum Goris Bessu dan keluarganya.






