WAINGAPU – BTN 23/01/2026-Media sosial di Sumba Timur kembali berubah menjadi “hutan belantara” yang tak beradab. Kasus terbaru yang memicu kecaman publik menimpa seorang ibu pemilik agen minyak tanah di Jalan Matawai Amahu, Waingapu. Hanya karena menjalankan prosedur distribusi yang benar, ia menjadi sasaran pembunuhan karakter oleh akun anonim yang bersembunyi di balik layar ponsel.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Peristiwa bermula pada Rabu (21/1), ketika sepasang oknum yang mengaku warga Kanatang memaksa membeli minyak tanah di agen milik Ibu Husni. Padahal, secara aturan dan etika distribusi, agen tersebut memprioritaskan stok untuk warga sekitar demi menjaga keadilan ketersediaan energi.

​Bukannya memahami esensi pemerataan, oknum tersebut justru menunjukkan arogansi dengan melontarkan kalimat provokatif: “Kalau tidak melayani, tutup saja.” Ironisnya, ketidakmampuan berargumen secara sehat ini berlanjut ke tindakan pengecut. memotret diam-diam dan menyebarkannya ke grup Facebook Waingapu Fans Club dengan narasi sampah dan makian kasar.

​Munculnya kasus ini kembali menelanjangi pola lama di grup Waingapu Fans Club. Grup yang seharusnya menjadi wadah diskusi warga, diduga kuat kerap beralih fungsi menjadi “medan eksekusi” bagi akun-akun palsu untuk menyerang pribadi tanpa dasar.

​Kritik tajam patut dilayangkan kepada para Admin grup. Sejauh mana tanggung jawab mereka dalam memoderasi konten? Membiarkan unggahan fitnah dan serangan personal tetap tayang adalah bentuk pembiaran terhadap kejahatan siber yang merusak tatanan sosial di Waingapu.

​Ibu Husni tidak tinggal diam. Didampingi Media BTN, laporan resmi telah dilayangkan ke Polres Sumba Timur pada Kamis (22/1). Namun, masyarakat kini bertanya-tanya. Apakah laporan ini akan berakhir di laci meja, atau polisi benar-benar punya nyali memburu pemilik akun anonim tersebut?

​”Kami tidak butuh janji manis penyidikan di hari Senin. Kami butuh tindakan nyata agar para pelaku ‘cyber bullying’ ini tahu bahwa jempol mereka bisa membawa mereka ke balik jeruji besi,” tegas salah satu warga yang prihatin atas kejadian ini.

​Serangan terhadap Ibu Husni bukan sekedar masalah pencemaran nama baik, melainkan bentuk Premanisme Digital yang menyasar pelaku usaha kecil. Jika polisi gagal mengusut tuntas akun palsu dan tidak memanggil admin grup yang bertanggung jawab, maka Waingapu akan terus menjadi ladang subur bagi fitnah dan adu domba.

​Negara tidak boleh kalah oleh pengecut yang hanya berani memaki lewat akun palsu!

​Penulis: Piter – BTN

Editor: Berantastipikor