Sumba Barat Daya, BTN – Suasana di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Rada Mata, Kota Tambolaka, mendadak gempar setelah dua orang ibu terlibat aksi saling pukul atau adu jotos di area pengisian bahan bakar. Insiden memalukan yang menjadi tontonan warga ini diduga kuat dipicu oleh aksi saling serobot saat mengantre Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite. 17/07/2026
Berdasarkan hasil penelusuran dan investigasi lapangan yang dilakukan oleh tim media BerantasTipikorNews.co.id, kedua wanita yang terlibat pertikaian tersebut disinyalir merupakan oknum penimbun BBM bersubsidi. Keduanya diketahui kerap membeli BBM dalam jumlah besar untuk kemudian dijual kembali secara eceran di kios-kios pinggir jalan di sekitar Kota Tambolaka.
Kedua ibu yang terlibat pertikaian tersebut diketahui berinisial Mama Kelvin R dan Mama A. Ketegangan di antara keduanya bermula dari adu mulut yang kian memanas, hingga akhirnya berujung pada aksi saling dorong dan baku hantam fisik di tengah area SPBU yang sedang padat antrean.
Aksi adu jotos di tempat umum ini sontak menarik perhatian besar dari para pengendara dan warga yang tengah mengantre BBM. Beruntung, sejumlah warga yang berada di lokasi bersama petugas SPBU bertindak cepat dengan melerai kedua belah pihak guna mencegah keributan meluas dan menghindari jatuhnya korban luka.
Menurut penuturan sejumlah saksi mata di lokasi kejadian, keributan dipicu oleh salah satu pihak yang mencoba menyerobot antrean pengisian Pertalite. Keduanya dilaporkan membawa wadah penampung berupa jerigen demi mendapatkan pasokan BBM dalam jumlah banyak untuk kepentingan bisnis eceran mereka.
Praktik pembelian BBM bersubsidi menggunakan jerigen secara berlebihan ini memang kerap dikeluhkan oleh konsumen biasa. Selain memicu antrean yang mengular panjang, aksi saling serobot di antara para pengantre jerigen ini sering kali menyulut gesekan sosial yang mengganggu kenyamanan publik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi yang dilayangkan oleh kedua belah pihak maupun pihak pengelola SPBU ke aparat kepolisian setempat. Meski demikian, insiden ini terlanjur menjadi buah bibir dan sorotan tajam masyarakat karena dinilai sangat mengganggu ketertiban umum.
Banyak pihak menyayangkan terjadinya insiden ini di area objek vital seperti SPBU. Kejadian tersebut dinilai sangat rawan memicu keributan susulan jika tidak segera dievaluasi, mengingat tingginya tensi persaingan di antara para penjual BBM eceran yang kerap mengabaikan aturan antrean.
Terkait peristiwa ini, pihak manajemen SPBU Rada Mata diimbau untuk memperketat pengawasan di area nosel pengisian. Pengelola SPBU diharapkan lebih selektif dan tegas dalam menertibkan para pembeli yang menggunakan jerigen, terutama yang terindikasi melakukan penimbunan atau pembelian berulang demi meraup keuntungan pribadi.
Ketegasan dari pihak kepolisian dan pemerintah daerah dalam menertibkan rantai distribusi BBM bersubsidi juga sangat dinantikan. Hal ini penting dilakukan agar kuota Pertalite yang disubsidi oleh negara benar-benar tepat sasaran dan tidak terus-menerus memicu konflik horizontal di tengah masyarakat.
Kabiro SBD, Eman Ledu






