MERE KEHE, SBD,BTN — Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Panglima Kodam (Pangdam) IX/Udayana melakukan kunjungan kerja (kunker) darurat ke Kabupaten Sumba Barat Daya pada Kamis (15/10/2026). Kehadiran jajaran pimpinan daerah dan TNI ini bertujuan untuk meninjau secara langsung kondisi masyarakat serta titik kerusakan terparah akibat bencana gempa bumi yang melanda Desa Mere Kehe, Kecamatan Kodi Balaghar.
Kunjungan kerja orang nomor satu di NTT bersama Panglima Daerah Militer tersebut menjadi peninjauan lapangan perdana paska bencana gempa bumi tektonik yang mengguncang wilayah Sumba Barat Daya. Langkah cepat ini diambil guna memastikan penanganan tanggap darurat dan penyaluran logistik bagi para korban terdampak berjalan secara optimal dan tepat sasaran.
Sebelumnya, bencana gempa tektonik berkekuatan Magnitudo 5,9 hingga 6,1 mengguncang Kabupaten Sumba Barat Daya pada Minggu (4/10/2026) pukul 05.55 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada di laut sekitar 14 hingga 29 kilometer arah Barat Daya Kodi dengan kedalaman 30 kilometer, yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif di wilayah perairan setempat.
Dampak guncangan terkuat dilaporkan meluas di wilayah Kecamatan Kodi Balaghar, Kodi Bangedo, dan Kodi dengan skala intensitas dirasakan hingga VI MMI (Modified Mercalli Intensity). Getaran nyata tersebut tak hanya merobohkan fasilitas umum seperti Sekolah Dasar (SD) dan perumahan warga di Desa Perokonda, namun juga meluluhlantakkan infrastruktur pemukiman di zona terdampak.
Desa Mere Kehe di Kecamatan Kodi Balaghar menjadi salah satu titik sentrum kerusakan terparah yang masuk dalam zona aman guncangan keras VI MMI. Dalam agenda peninjauan ini, Gubernur NTT bersama Pangdam IX/Udayana turun langsung menyusuri lokasi pemukiman warga yang ambruk guna melihat langsung besarnya dampak kerusakan fisik yang dialami masyarakat.
Selain melakukan pemantauan fisik, Gubernur NTT dan Pangdam IX/Udayana secara simbolis menyalurkan bantuan masa tanggap darurat berupa ribuan paket sembako dan terpal pemukiman untuk para pengungsi. Agenda dilanjutkan dengan menggelar rapat koordinasi darurat bersama Bupati SBD, Dandim, Kapolres SBD, jajaran BPBD, serta Camat Kodi Balaghar guna merumuskan langkah penanganan pascabencana secara terpadu.
Dalam arahannya di lokasi bencana, Gubernur NTT menginstruksikan Pemerintah Kabupaten SBD untuk segera merampungkan pendataan kerusakan secara akurat dan transparan. Gubernur menegaskan agar seluruh jajaran memastikan tidak ada satu pun warga terdampak yang terlewat dari daftar penerima bantuan logistik dan fasilitas recovery.
Sementara itu, Pangdam IX/Udayana mengarahkan jajaran Dandim Sumba Barat Daya untuk mengerahkan jajaran Babinsa ke lokasi bencana secara penuh. Personel TNI diinstruksikan untuk membantu proses evakuasi pembersihan puing, pembangunan fasilitas dasar, serta memimpin program pemulihan trauma (trauma healing) bagi anak-anak dan warga terdampak di Desa Mere Kehe.
Kedatangan rombongan pejabat tinggi daerah tersebut disambut penuh haru dan antusias oleh warga Desa Mere Kehe. Di tengah kondisi darurat, masyarakat menaruh harapan besar agar pemerintah daerah dan pusat tidak hanya menyediakan tenda darurat, melainkan segera merealisasikan program perbaikan serta rekonstruksi rumah permanen yang tahan gempa.
Hingga Kamis (15/10/2026) siang, laporan lapangan mengonfirmasi bahwa guncangan gempa susulan berkekuatan kecil masih sesekali dirasakan oleh warga Desa Mere Kehe, sehingga mayoritas penduduk masih memilih bertahan di tenda darurat. Gerak cepat Gubernur NTT dan Pangdam IX/Udayana yang turun langsung ke episentrum bencana di pelosok Kodi Balaghar mendapat apresiasi luas karena menghadirkan rasa aman dan kepastian negara di tengah musibah yang dihadapi masyarakat Sumba Barat Daya.
Kabiro SBD, Eman Ledu.






