LUWUK – BTN 29/03/2026-Publik di Kabupaten Banggai baru-baru ini disuguhi kontras yang menyakitkan antara pengabdian tulus seorang dokter dengan kekakuan birokrasi kesehatan yang nyaris merenggut nyawa. Di satu sisi, dr. Gede dipuja karena menaruh adab dan keselamatan pasien di atas segalanya, sementara di sisi lain, Puskesmas Simpong justru menjadi sorotan tajam setelah menolak pasien darurat melahirkan dengan dalih “SOP” yang kaku.
Melalui kesaksian warga yang viral di media sosial, sosok dr. Gede muncul sebagai tamparan keras bagi nakes-nakes yang bersembunyi di balik kertas administrasi. Warga Masama mengenangnya sebagai dokter yang “gercep” (gerak cepat), bahkan rela menjemput pasien dengan mobil pribadi dan membalas konsultasi via pesan singkat (inbox) tanpa pamrih.
“Ilmu sudah dipakai, adab dan etika tetap melekat tidak terlepas,” tulis Karmilaa Alimun, seorang warga yang memuji betapa dr. Gede tetap santun dan rendah hati meskipun secara umur lebih tua. Dedikasinya begitu mengakar hingga masyarakat satu kecamatan pernah melakukan aksi protes (demo) menolak kepindahannya. Bagi dr. Gede, keselamatan pasien adalah hukum tertinggi, melampaui segala batas jam kerja dan formalitas.
Berbanding terbalik 180 derajat, Puskesmas Simpong justru mempertontonkan wajah “dingin” pelayanan kesehatan plat merah. Insiden penolakan pasien darurat melahirkan baru-baru ini dengan alasan “Sesuai SOP” adalah bentuk kegagalan nurani yang fatal.
Publik bertanya,Apakah SOP dibuat untuk menyelamatkan nyawa atau justru untuk melepaskan tanggung jawab saat kondisi kritis? Jika seorang dr. Gede yang sudah senior saja masih mampu mengedepankan sisi humanis, mengapa nakes di Puskesmas Simpong seolah-olah menjadi “robot” yang hanya patuh pada teks prosedur tanpa mampu melihat urgensi nyawa manusia di depan mata? Penolakan ini bukan sekedar masalah teknis, melainkan degradasi empati yang memalukan bagi dunia medis di Banggai.
Rilis ini merupakan peringatan keras bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai. Rakyat tidak butuh puskesmas yang megah jika di dalamnya hanya berisi petugas yang pandai berdalih. Rakyat butuh dokter dan perawat yang memiliki “Roh” seperti dr. Gede,sosok yang memahami bahwa esensi profesi medis adalah pertolongan, bukan penolakan.
Kejadian di Puskesmas Simpong adalah potret buruk manajemen kesehatan yang harus segera dievaluasi total. Jangan sampai jargon “Pelayanan Prima” hanya menjadi hiasan di dinding puskesmas, sementara di lapangan, rakyat kecil masih harus beradu argumen dengan dinding-dinding birokrasi saat bertaruh nyawa.
Apakah SOP Puskesmas Simpong memang dirancang untuk menolak orang yang hampir melahirkan, ataukah itu hanya alasan malas untuk bertindak? Publik menunggu audit transparan atas insiden ini!
Redaksi






