BOGOR, BTN — 01/08/2025 – Musim kemarau kali ini datang dengan ancaman nyata: kekeringan di kawasan Kabupaten Bogor. Di tengah kekhawatiran yang makin memuncak, sorotan tajam mengarah pada aktivitas geotermal di Gunung Salak.
Proyek yang diklaim sebagai solusi energi ini justru dituding sebagai biang keladi di balik masalah lingkungan, mulai dari kerusakan hutan hingga menipisnya cadangan air warga.
Dadan Ramdan, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Inisiatif dan mantan Direktur WALHI Jawa Barat, tak ragu melontarkan kritik pedas. “Dugaan kuat mengarah ke aktivitas geotermal sebagai pemicu kekeringan sumur warga,” tegasnya pada Jumat, 1 Agustus 2025.
Menurutnya, eksploitasi hutan dan pengeboran masif untuk proyek ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dan menguras air tanah.
*Kritik ini bukan tanpa dasar.*
Dadan menyoroti fakta bahwa turbin pembangkit listrik geotermal di Gunung Salak membutuhkan volume air yang sangat besar untuk menghasilkan 377 MW.
“Proses pengeboran dan injeksi fluida pada proyek ini secara langsung dapat memengaruhi kondisi air tanah di sekitar area,” ungkapnya.
Kekhawatiran warga pun beralasan: akankah sumur yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka mengering akibat aktivitas korporasi.Namun, ancaman geotermal tak berhenti pada masalah air.
Dadan juga menyoroti potensi bahaya lain yang mengintai warga.
Gangguan Kesehatan, Aktivitas geotermal diduga melepaskan gas berbahaya seperti hidrogen sulfida (H2S), yang dapat mengiritasi mata dan mengganggu pernapasan.
Getaran dan Gempa Bumi: Laporan warga tentang suara gemuruh dan getaran pada malam hari sudah sering terdengar. Bahkan, Dadan mengingatkan dugaan kuat bahwa aktivitas pengeboran dan injeksi fluida pada proyek ini memicu gempa bumi 3,2 skala Richter pada Oktober 2023.
Menanggapi situasi ini, Perkumpulan Inisiatif tak tinggal diam. “Kami akan segera melakukan investigasi dan penelitian mendalam,” janji Dadan.yang rencananya akan bekerja sama dengan para peneliti ahli dan WALHI, mereka akan meninjau langsung sumber air yang digunakan, volume air yang dikonsumsi, serta proses pembuangan limbahnya. Tujuannya jelas:
Dadan akan memastikan apakah kekeringan dan berbagai gangguan lingkungan yang terjadi adalah murni fenomena alam, ataukah dampak langsung dari proyek geotermal.
Situasi ini menempatkan warga di ujung tanduk. Di satu sisi, mereka dijanjikan energi bersih. Di sisi lain, mereka harus menghadapi ancaman nyata terhadap lingkungan, kesehatan, dan sumber daya air mereka sendiri.
Pertanyaan besar yang harus dijawab adalah: sejauh mana dampak lingkungan dan sosial dari proyek geotermal ini bisa ditoleransi, dan apakah pihak pengembang bersedia bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensinya?
kabiro Sukabumi raya
Yudi Omen






