Scroll Untuk Lanjut Membaca

SUKABUMI, BTN – Sabtu malam, 26 Juli 2025, menjadi catatan emas dalam sejarah Kota Sukabumi. Lapang Merdeka dibanjiri ribuan warga yang antusias menyambut kehadiran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, didampingi seniman Sunda kenamaan dan tokoh budaya, Ohang. Sejak sore hari,

Gelombang manusia mulai membanjiri area lapangan, tak hanya dari Sukabumi, tetapi juga dari berbagai pelosok daerah lain, menunjukkan kerinduan mendalam pada sosok yang mereka seidolakan.
Peristiwa ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah manifestasi nyata dari ikatan emosional yang kuat antara rakyat dengan pemimpinnya.

Dedi Mulyadi, yang akrab disapa “Bapak Aing”, telah melampaui sebutan jabatan formalnya. Ia adalah simbol harapan, keberanian, dan penjaga kearifan lokal bagi masyarakat Jawa Barat. Julukan “Bapak Aing” sendiri bukan muncul tanpa sebab; ia adalah representasi pemimpin yang konsisten menunjukkan kesederhanaan, kerakyatan, dan selalu hadir di tengah suka maupun duka masyarakat.

Tak mengherankan jika Lapangan Merdeka malam itu berubah menjadi lautan manusia yang penuh gelora. Sorak sorai, riuh tepuk tangan, dan pekikan “Bapak Aing!” membahana saat Dedi Mulyadi melangkah ke panggung.

Banyak yang tak kuasa menahan air mata haru, seolah tak percaya dapat bertatap muka langsung dengan figur yang selama ini hanya mereka saksikan melalui layar kaca dan media sosial.

Acara semakin semarak dengan penampilan Ohang yang piawai mengocok perut penonton dengan gaya khasnya, seraya menyelipkan pesan-pesan moral, budaya, dan kebangsaan. Perpaduan antara visi kepemimpinan dan sentuhan kesenian ini menciptakan suasana yang akrab, hangat, dan sarat nilai.

Dalam pidatonya, Dedi Mulyadi menyampaikan apresiasi tulus atas sambutan luar biasa dari warga Sukabumi. Ia menegaskan kembali komitmennya untuk senantiasa merangkul rakyat dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya Sunda. Menurutnya, seorang pemimpin sejati wajib mendengarkan suara rakyat dan merasakan langsung denyut nadi kehidupan mereka.

“Jadi gubernur teh kudu bisa nyorang lemah, ngadenge hate rakyat, jeung nincak bumi ku hate,” ujar Dedi Mulyadi, yang disambut gemuruh tepuk tangan dan seruan “Hidup Bapak Aing!”
Malam itu, Lapangan Merdeka Sukabumi tak hanya menjadi saksi pertemuan fisik, tetapi juga pertemuan batin yang mendalam antara rakyat dan pemimpinnya. Ini adalah pengingat krusial bahwa kekuasaan tanpa kedekatan adalah kesia-siaan, dan,kepemimpinan yang sejati hanya akan lahir dari cinta, empati, dan pengabdian tulus.

Bagi masyarakat Sukabumi, 26 Juli 2025 akan teruk sebagai malam bersejarah – malam di mana Lapang Merdeka menjadi panggung nyata perjumpaan antara harapan rakyat, kekayaan budaya, dan esensi kepemimpinan yang sejati.