WAINGAPU, BTN – Wajah ibu kota Kabupaten Sumba Timur tercoreng hebat. Pasar Inpres Matawai, yang seharusnya menjadi pusat denyut ekonomi warga, kini berubah menjadi simbol kegagalan tata kelola pemerintah daerah. Kondisi pasar terpantau amburadul total, kumuh, dan jauh dari kata layak. 04/02/2026
Bukan lagi sekedar semrawut, para pedagang kini menguasai badan jalan umum sebagai tempat berjualan. Akibatnya, akses publik terputus dan arus lalu lintas lumpuh total. Kendaraan warga terpaksa terjebak dalam kemacetan yang dipicu oleh okupasi lapak liar yang memakan bahu jalan.
Seorang warga yang melintas mengungkapkan kemarahan dan kekecewaannya kepada media BTN.
Kami sangat kecewa! Jalan ini fasilitas umum, bukan tempat jualan pribadi. Kendaraan tidak bisa lewat karena barang dagangan sudah menutup jalan. Ini pasar atau hutan belantara?” cecar seorang ibu dengan nada tinggi.
Pantauan di lokasi menunjukkan pemandangan yang memuakkan: tumpukan sampah berserakan secara liar di sepanjang badan jalan. Aroma amis dan bau busuk menyengat hidung, menciptakan lingkungan yang tidak sehat dan sangat berisiko menjadi sumber wabah penyakit. Kondisi ini membuktikan bahwa manajemen kebersihan pasar tidak berjalan sama sekali.
Persoalan ini bukan hal baru, namun terkesan dibiarkan tanpa solusi nyata. Masyarakat mulai mempertanyakan keberadaan para pemimpin daerah yang dipilih untuk melayani.
salah satu perwakilan warga, memberikan pernyataan pedas yang ditujukan langsung kepada pucuk pimpinan di Sumba Timur.
Diminta segera melakukan penataan ulang total, bukan sekedar imbauan basa-basi. Tertibkan pedagang kembali ke dalam area pasar dan fungsikan jalan sebagaimana mestinya.
“Kami meminta perhatian serius. Berhentilah hanya duduk manis menikmati fasilitas di kursi empuk kantor! Turunlah ke lapangan, hirup bau busuk di Matawai, dan lihat bagaimana rakyat Anda kesulitan hanya untuk melintas di jalan umum,” tegasnya
Masyarakat Sumba Timur mendesak aksi nyata, bukan sekedar janji saat kampanye. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dianggap gagal menjaga marwah kota dan kesejahteraan warganya.
Alexander






