Scroll Untuk Lanjut Membaca

​SUMBA TIMUR, BTN — Di tengah gempuran modernisasi yang bergerak kian cepat, Rumah Adat Uma Batangu di Kampung Adat Matolang Watukapepi, Desa Matawai Pawali II, Kecamatan Lewa, tetap berdiri tegak. Bangunan megah khas Sumba Timur ini bukan sekedar konstruksi fisik kayu dan alang-alang, melainkan simbol identitas, sejarah, serta spiritualitas yang menghubungkan masyarakat setempat dengan jejak para leluhur. 3/10/2026

​Namun, keteguhan masyarakat menjaga simbol kebudayaan tersebut berbanding terbalik dengan kondisi infrastruktur di sekitarnya. Akses jalan menuju lokasi kampung adat kini menjadi sorotan tajam warga. Bagi mereka, pelestarian arsitektur dan ritual adat terasa timpang jika sarana konektivitas dasar menuju destinasi budaya tersebut terus terabaikan dari perhatian pembangunan.

​Dalam wawancara khusus bersama media ini, seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya menyampaikan keresahan mendalam mengenai ketimpangan tersebut. Menurutnya, keberadaan kebanggaan budaya seperti Uma Batangu seharusnya dibarengi dengan komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan akses transportasi yang layak dan aman.

​“Kami sangat berharap pemerintah memperhatikan perbaikan jalan menuju kampung adat ini. Jika akses jalan dalam kondisi baik, bukan hanya warga lokal yang terbantu, tetapi masyarakat luar dan pengunjung juga akan lebih mudah datang untuk mengenal serta mempelajari kekayaan budaya kami,” ujar warga tersebut.

​Aspirasi tersebut menggarisbawahi realitas mendasar dalam dunia pariwisata daerah: kekayaan potensi budaya tidak akan pernah berkembang optimal tanpa sokongan infrastruktur jalan yang memadai. Kampung Adat Matolang Watukapepi dengan segala potensi magis budayanya dipastikan bakal terus terisolasi jika masalah aksesibilitas terus dibiarkan tanpa solusi nyata.

​Masyarakat pun secara terbuka meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Timur, khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta Dinas PUPR, untuk tidak sekedar melihat kondisi lapangan dari balik meja kerja. Pihak terkait didesak turun langsung memantau kondisi riil infrastruktur guna menyelaraskan program promosi wisata dengan perbaikan fisik di lapangan.

​Pengembangan pariwisata berbasis kebudayaan sejatinya membutuhkan keterhubungan yang utuh antara pemeliharaan tradisi, pemberdayaan masyarakat adat, serta penyediaan fasilitas publik dasar. Tanpa keterhubungan tersebut, upaya memasarkan destinasi budaya hanya akan menjadi wacana manis yang tidak pernah memberi dampak ekonomi langsung bagi warga setempat.

​Masyarakat menekankan bahwa rumah adat Uma Batangu tidak boleh dibiarkan hanya menjadi objek foto estetik, dokumentasi digital, atau materi promosi liputan semata. Warisan leluhur ini harus hidup, dapat dikunjungi dengan aman, dipelajari oleh generasi muda, serta menjadi penggerak ekonomi warga sekitar melalui keterbukaan akses.

​Keberadaan Uma Batangu kini menyisakan pertanyaan fundamental bagi pemangku kebijakan di Kabupaten Sumba Timur: Jika kebudayaan kerap digaungkan sebagai aset kebanggaan dan jualan utama pariwisata daerah, sudahkah sarana pendukung menuju ke sana mendapatkan porsi perhatian anggaran yang sepadan?

​Membangun pariwisata sejatinya bukan sekadar memasang papan nama destinasi atau mengunggah konten menarik di media sosial, melainkan membuka jalan yang menghubungkan potensi dengan kesejahteraan. Perhatian nyata Pemda Sumba Timur terhadap perbaikan jalan Kampung Adat Matolang Watukapepi menjadi penentu utama agar warisan leluhur ini tak sekadar bertahan sebagai kenangan masa lalu, melainkan terus hidup memberi manfaat di masa depan.

Piter kabiro Sumba Timur