LUWUK TIMUR, BTN 20/06/2026 – Fasilitas publik yang dibangun dengan uang negara kembali menuai sorotan tajam. Kantor Perpustakaan yang berdiri di kawasan Kantor Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, dikabarkan kerap terkunci rapat dan belum berfungsi optimal. Alih-alih menjadi mercusuar ilmu pengetahuan, gedung tersebut kini terancam sekedar menjadi monumen mati yang membuang-buang anggaran.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Berdasarkan cetak biru pembangunannya, fasilitas perpustakaan ini sejatinya diproyeksikan sebagai pusat penyedia akses informasi, literatur, dan ruang bagi masyarakat untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan. Keberadaannya diharapkan mampu menumbuhkan budaya literasi, memfasilitasi riset lokal, serta menyediakan ruang komunitas yang aman guna mendukung pembelajaran sepanjang hayat.

​Namun, realita di lapangan justru berbanding terbalik 180 derajat dari visi mulia tersebut. Harapan besar masyarakat Luwuk Timur untuk memiliki ruang baca yang representatif tampaknya harus membentur dinding kekecewaan. Aktivitas di dalam gedung perpustakaan tersebut tampak mati suri, dengan tingkat kunjungan masyarakat yang berada di titik nadir.

​Ironisme ini diperkuat oleh kesaksian dari pihak internal pemerintahan setempat. Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, gedung tersebut lebih sering terlihat dalam kondisi sepi senyap tanpa adanya denyut aktivitas literasi yang berarti bagi warga sekitar.

​”Sejauh ini, meski ada bangunan perpustakaan, hampir tidak ada masyarakat atau pelajar yang datang berkunjung. Bahkan fasilitas ini seringkali tutup,” ujar salah satu pihak aparatur Kecamatan Luwuk Timur saat dikonfirmasi oleh awak media, baru-baru ini.

​Narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan itu juga menambahkan bahwa operasional gedung ini sangat tidak konsisten. Pelayanan harian dari petugas dinas terkait hampir tidak pernah dirasakan manfaatnya secara berkala oleh masyarakat setempat yang membutuhkan akses buku.

​”Memang biasanya ada petugas resmi dari Dinas Perpustakaan Kabupaten Banggai yang sesekali datang berkunjung ke sini. Namun, kedatangan mereka sifatnya hanya sesekali dan tidak terjadwal dengan jelas, sehingga tidak mampu menghidupkan fungsi perpustakaan sebagaimana mestinya,” lanjutnya dengan nada kecewa.

​Kondisi yang memprihatinkan ini memicu gelombang pertanyaan dan kritik dari sejumlah warga serta pengamat kebijakan publik di Kabupaten Banggai. Mereka mempertanyakan efektivitas dan asas manfaat dari pemanfaatan bangunan fisik perpustakaan yang disinyalir telah menelan anggaran daerah yang tidak sedikit tersebut.

​Masyarakat menilai, mendirikan bangunan fisik tanpa dibarengi dengan manajemen pengelolaan dan program aktivasi yang matang adalah bentuk pemborosan ruang dan anggaran publik. Warga mendesak adanya langkah konkret dan revolusioner dari instansi terkait untuk segera membenahi karut-marut tata kelola fasilitas pendidikan ini.

​”Kami tidak butuh gedung kosong yang hanya jadi pajangan di kompleks kecamatan. Yang kami butuhkan adalah akses buku, jam operasional yang jelas, dan petugas yang ramah yang siap melayani anak-anak kami untuk belajar,” ketus seorang warga setempat yang kerap melintasi area tersebut.

​Selain tuntutan perbaikan pelayanan mendasar dan kepastian jam operasional, Dinas Perpustakaan Kabupaten Banggai juga didesak untuk lebih kreatif. Berbagai program literasi, bedah buku, hingga kompetisi membaca dinilai perlu digelar secara rutin agar keberadaan tempat ini dikenal luas oleh kalangan pelajar di Kecamatan Luwuk Timur.

​Persoalan ini memunculkan indikasi kuat adanya lemahnya pengawasan dan perencanaan berbasis kebutuhan (needs assessment) dari dinas terkait. Jika dibiarkan berlarut-larut tanpa intervensi pembenahan, maka investasi pemerintah di sektor literasi ini dipastikan akan berujung sia-sia dan merugikan hak-hak publik.

​Hingga berita ini ditayangkan, redaksi Berantastipikornews masih terus berupaya melakukan verifikasi lanjutan dan meminta kejelasan dari pihak Dinas Perpustakaan Kabupaten Banggai. Konfirmasi resmi dari Kepala Dinas sangat diperlukan guna mengklarifikasi kendala operasional serta strategi penyerapan anggaran literasi di wilayah Luwuk Timur,

AL/red