KILONGAN –BTN 13/02/2026 Pelayanan PDAM Kilongan benar-benar berada di titik nadir. Ibarat pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”, begitulah nasib tragis yang dialami para pelanggan. Sejak Kamis (12/2) hingga hari ini, Jumat, 13 Februari 2026, pasokan air bersih dilaporkan mampet total, sementara mesin pencetak denda terus bekerja tanpa ampun.
Keluhan warga mencapai puncaknya karena distribusi air yang sangat diskriminatif dan tidak menentu. Untuk mendapatkan setetes air, warga harus terjaga di tengah malam bak petugas ronda. Ironisnya, saat matahari terbit, air kembali mati total.
“Dari kemarin sampai sekarang air tidak jalan sama sekali. Biasanya mengalir hanya tengah malam, itu pun pagi sudah mati lagi. Sekarang? Sama sekali kering!” ujar seorang warga dengan nada geram kepada tim media.
Ketidakmampuan PDAM dalam menjaga kontinuitas distribusi air berbanding terbalik dengan ketajaman mereka dalam memeras kantong pelanggan. Warga menilai sistem denda yang diterapkan sangat tidak manusiawi.
Air mati berhari-hari tanpa ada solusi maupun kompensasi.Telat membayar hanya satu hari, pelanggan langsung dipaksa membayar denda Rp 10.000.
“Kalau mau denda cepat, harusnya perbaikan juga cepat! Jangan cuma tahu menuntut uang rakyat, tapi hak rakyat atas air diabaikan,” tegas pelanggan lainnya.
Krisis yang menyusahkan ribuan pelanggan ini seolah dianggap angin lalu oleh pihak manajemen. Hingga berita ini ditayangkan, pihak PDAM Kilongan masih bungkam seribu bahasa. Tidak ada penjelasan teknis, tidak ada permohonan maaf, apalagi solusi konkret.
Sikap bungkam ini mempertegas kesan bahwa manajemen PDAM Kilongan menutup mata dan telinga terhadap penderitaan rakyat. Publik kini mempertanyakan kredibilitas dan transparansi pengelolaan anggaran di tubuh perusahaan plat merah tersebut.
Jangan biarkan rakyat terus-menerus membeli air galon untuk kebutuhan mandi hanya karena ketidakbecusan manajemen. Jika dalam waktu dekat tidak ada perubahan, masyarakat mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar. Rakyat tidak butuh alasan teknis yang basi, rakyat butuh air mengalir!
Redaksi






