Scroll Untuk Lanjut Membaca

SURABAYA, BTN – Perlawanan warga Pati terhadap ketidakadilan yang mereka rasakan telah memantik kembali diskusi tentang relevansi pemikiran sastrawan besar,

Pramoedya Ananta Toer. Fenomena ini, menurut Sekjen Koalisi Pembela Konstitusi dan Kebenaran (KP-K&K), Suta Widhya, S.H., adalah cerminan nyata dari kritik pedas

Pramoedya dalam karyanya, terutama tetralogi Bumi Manusia.
Suta Widhya, dalam pernyataannya hari Jumat (15/8) di Surabaya, menyoroti bagaimana Pramoedya tidak hanya mengkritik penjajahan asing, tetapi juga menelanjangi potensi kezaliman yang dilakukan oleh bangsa sendiri.

“Pramoedya mengingatkan kita bahwa konflik internal, di mana sesama anak bangsa bisa menjadi penindas, adalah luka yang menganga dalam sejarah kita.

Pertanyaan ‘Minke, kau kira Jawa tidak lebih kejam dari kami bila menjajah bangsanya sendiri?’ bukan hanya dialog fiksi, melainkan sebuah peringatan abadi tentang bahaya elite yang meniru cara berpikir dan bertindak penjajah,” tegasnya.

Menurutnya, kasus Pati adalah letupan awal yang bisa memicu gelombang perlawanan serupa di daerah lain. Ia bahkan menunjuk Cirebon sebagai contoh potensi konflik baru, di mana kenaikan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) disebut-sebut mencapai 1000%.

“Ini adalah konsekuensi pahit dari korupsi APBN di rezim sebelumnya, dan ironisnya, dampaknya kini harus ditanggung oleh pemerintahan baru di bawah Prabowo,” lanjut Suta.

Suta memprediksi bahwa Presiden Prabowo menyadari warisan berat dari era Jokowi yang kini menjadi beban kerjanya. Prediksi ini diperkuat dengan langkah pemerintah yang fokus pada penguatan militer, yang diinterpretasikannya sebagai persiapan untuk menghadapi potensi gejolak sosial yang tidak diinginkan.

“Presiden Prabowo harus segera melakukan perombakan kabinet. Para pembantu yang telah menyakiti hati rakyat melalui kebijakan dan pernyataan yang kontroversial harus segera diganti.

Jadikan fenomena Pati sebagai ‘lonceng kematian’ bagi para elite yang abai, agar pemerintahan saat ini tidak tergilas oleh perubahan zaman yang menuntut keadilan,” tutup Suta Widhya dengan nada keras.