PALU, BTN — 22 JUNI 2026 – Suasana penuh Haru mewarnai jalannya kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Tindak Lanjut Pendampingan Implementasi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berlangsung di Palu mulai tanggal 21 s.d 23 Juni 2026
Di tengah pemaparan materi penguatan program nasional, sebuah ungkapan tulus dan penuh rasa haru datang dari salah satu peserta rakor, Ibu Marlian, S.Pd.Gr., seorang guru berdedikasi dari SD Alakasing Kecamatan Peling Tengah,
tak sabar menahan rasa bangga, Ibu Marlian menyampaikan apresiasi terdalamnya yang ditujukan khusus kepada seluruh Tim Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Kecamatan Peling Tengah, Kabupaten Banggai Kepulauan. Menurutnya, implementasi MBG di wilayah Peling Tengah telah berjalan melampaui ekspektasi berkat kepemimpinan yang luar biasa dan kerja keras yang dibalut keikhlasan.
”Terima kasih banyak untuk seluruh Tim SPPG Kecamatan Peling Tengah. Kepada Ibu/Bapak Ketua SPPG, saya benar-benar salut atas kepemimpinannya yang telah menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, disiplin, dan ikhlas. Tim yang solid, dapur yang rapi, memasak selalu tepat waktu, dan gizi anak-anak sangat terjaga. Saya menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak semakin lahap makan,” ujar Ibu Marlian dengan nada bergetar penuh rasa syukur.
Ia juga menambahkan doa yang menyentuh hati bagi para petugas dapur gizi. “Terima kasih sudah menjadi teladan dan sehat selalu. Semoga setiap sendok nasi yang disajikan menjadi ladang pahala serta mengalirkan doa-doa baik dari anak-anak dan orang tua. Saya berharap SPPG kita bisa menjadi contoh SPPG terbaik di seluruh Indonesia.”
Dalam pemaparannya yang mengaitkan materi dari Badan Gizi Nasional dan Dinas Kesehatan Provinsi, Ibu Marlian menegaskan bahwa Dapur MBG Peling Tengah memiliki kualitas yang jauh lebih unggul dibanding daerah lain. Keberhasilan ini bahkan mendongkrak persentase capaian Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) secara signifikan.
Di saat daerah lain belum sepenuhnya melaksanakan standar secara ketat, Dapur SPPG Peling Tengah telah menerapkan pengujian yang berlapis ya itu 1 sampel dan 1 untuk uji organoleptik demi memastikan kelayakan makanan. Guna menjaga kemurnian gizi, dapur SPPG juga secara ketat dilarang menggunakan penyedap rasa sintetis (micin/masako) dan diwajibkan beralih ke kaldu jamur alami.
Menanggapi tantangan di lapangan, termasuk potensi adanya tekanan dari pihak penerima manfaat, Ibu Marlian memberikan pesan penguatan yang sangat bijak. “Sabar, ini adalah tantangan dan bagian dari perjuangan kita bersama menuju Indonesia Emas,” ungkapnya optimis.
Sinergi dan Rekomendasi Langkah Strategis Kedepan
Guna menyempurnakan keberlanjutan Program Nasional MBG ini, beberapa poin penting dan arahan teknis turut digarisbawahi dalam Rakor tersebut:
Standar Keamanan Pangan: Sesuai materi Badan Gizi Nasional, penutup omprengan wadah makanan wajib mencantumkan batas waktu konsumsi secara tertulis. Selain itu, berdasarkan pemberitahuan Dinas Kesehatan Provinsi, disarankan agar menu telur didistribusikan dalam kondisi tidak dikupas untuk menjaga sterilitas.
Konektivitas dan Koordinasi Internal bahwa Pengemasan atau ikatan omprengan disepakati sebanyak 5 buah (bukan 10) demi memudahkan distribusi. Hal ini selanjutnya akan dikoordinasikan oleh Bapak Erik selaku korwil SPPG BANGGAI, BANGKEP, BALUT kepada seluruh SPPG di Bangkep.
Imbauan Ini juga tertuju kepada Tenaga Pendidik bahwa, Rekan-rekan guru diimbau untuk mendukung penuh program ini.
Jika ditemukan adanya menu yang kurang baik, diharapkan untuk langsung dikoordinasikan secara internal melalui grup koordinasi MBG agar segera ditangani.
Dukungan Dana BOS Sekolah juga di peruntukan Untuk menjamin higienitas di lingkungan sekolah, petugas PIC sekolah diinstruksikan menyiapkan celemek, sarung tangan, dan masker bagi guru yang piket setiap hari, serta sabun cuci tangan untuk anak-anak, yang pengadaannya bersumber dari Dana BOS melalui bendahara sekolah.
Alur penyampaian instruksi ini akan diturunkan dari Pengawas Kabupaten ke Pengawas Kecamatan, hingga ke Kepala Sekolah.
Berita ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi yang kuat antara sektor pendidikan, kesehatan, dan satuan pelayanan gizi mampu menghadirkan secercah harapan baru bagi pemenuhan gizi generasi penerus bangsa di Banggai Kepulauan, sekaligus menjadi pemantik semangat bagi daerah-daerah lain di seluruh penjuru nusantara.






