Scroll Untuk Lanjut Membaca

WAINGAPU, SUMBA TIMUR, BTN — Perayaan menyongsong HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, berlangsung semarak. Bukan hanya Paguyuban Moremasi Ngada, tetapi berbagai etnis turut ambil bagian, menjadikan karnaval budaya sebagai panggung kebinekaan yang hidup. Kamis 13/08/2026

Di tengah arak-arakan berbagai kelompok masyarakat, Paguyuban Moremasi Ngada tampil membawa kekayaan budaya Bajawa melalui tarian Jai Ala Bajawa. Penampilan tersebut diprakarsai anak-anak muda Ngada yang berdomisili di Waingapu.

Rombongan bergerak dari Lapangan Rihieti menuju Rumah Jabatan Bupati dan Wakil Bupati Sumba Timur. Sepanjang rute, berbagai kelompok etnis turut memeriahkan suasana dengan pakaian, seni dan tradisi masing-masing.

Ketua Paguyuban Moremasi Ngada, Herman Yoseph Ratu, mengatakan keikutsertaan warga Ngada merupakan bentuk kecintaan terhadap Indonesia sekaligus komitmen untuk terus merawat budaya daerah di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

“Paguyuban Moremasi Ngada yang berada di Sumba Timur semuanya mengambil bagian dalam rangka merayakan HUT Kemerdekaan Indonesia yang ke-81. Kami bersama etnis lain menampilkan Jai Ala Bajawa yang diprakarsai anak-anak muda Ngada yang berada di Waingapu,” ujar Herman Yoseph Ratu ketika dikonfirmasi Media Berantas Tipikor New.

Bukan Milik Satu Etnis

Karnaval tersebut memperlihatkan bahwa perayaan kemerdekaan di Sumba Timur bukan panggung milik satu kelompok. Berbagai etnis ikut turun ke jalan, membawa identitas budaya masing-masing dan melebur dalam satu perayaan kebangsaan.

Jai Ala Bajawa yang dibawakan Paguyuban Moremasi Ngada menjadi salah satu warna dalam rangkaian karnaval tersebut. Di sisi lain, kehadiran kelompok-kelompok etnis lain mempertegas bahwa keberagaman budaya merupakan kekuatan yang dapat mempererat hubungan sosial di Sumba Timur.

Puncak suasana terjadi ketika rombongan tiba di Rumah Jabatan Bupati Sumba Timur. Paguyuban Moremasi Ngada disambut Bupati dan Wakil Bupati Sumba Timur bersama jajaran Forkopimda.

Suasana formal seketika berubah menjadi pesta rakyat ketika Bupati, Wakil Bupati, dan Kapolres Sumba Timur turun langsung ke arena untuk ikut menari Jai bersama anak-anak muda Ngada.

Yang menarik perhatian, Wakil Bupati Sumba Timur mengenakan kain adat Bajawa saat ikut dalam momentum tersebut.

Ketika Perbedaan Menjadi Kekuatan

Momen ini menjadi gambaran bahwa kemerdekaan bukan sekedar upacara dan pidato. Kemerdekaan juga memberi ruang bagi setiap kelompok untuk menjaga identitas budaya sekaligus hidup berdampingan dengan kelompok lainnya.

Dari Waingapu, pesan itu menjadi semakin kuat: Ngada tidak datang untuk berdiri sendiri. Sumba tidak berdiri sendiri. Berbagai etnis yang hidup di Sumba Timur hadir bersama dalam satu perayaan.

Jai Ala Bajawa pun bukan sekadar tarian. Ia menjadi bagian dari mosaik budaya yang mengisi perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Waingapu.

Berbeda suku, berbeda budaya, tetapi satu Indonesia. Itulah wajah kemerdekaan yang ditampilkan masyarakat Sumba Timur melalui karnaval budaya tersebut.

Piter Kabiro, Sumba Timur.