Scroll Untuk Lanjut Membaca

​WAINGAPU, BTN – Di tangan seorang seniman sejati, limbah yang jamak dipandang sebelah mata bisa menjelma menjadi karya seni bernilai tinggi. Filosofi inilah yang dihidupi oleh Cakra Dendu Ngara (37), seorang pengrajin lokal asal Kelurahan Kambajawa, Kabupaten Sumba Timur, yang terus mengukir asa di tengah keterbatasan modal dan peralatan. 4/07/2026

​Pria yang akrab disapa Ama ini sehari-hari bergelut dengan debu dan potongan kayu sisa di kediamannya yang beralamat di KM 7, Gang Cendana, RT 02/RW 01. Sejak tahun 2017, Ama telah mendedikasikan hidupnya dalam dunia kerajinan, sebuah perjalanan panjang yang lahir dari tuntutan ekonomi sekaligus panggilan jiwa untuk melestarikan seni tradisi.

​Sebelum mahir memahat kayu, Ama mengawali rekam jejaknya sebagai pengrajin patung batu. Namun, hantaman badai ekonomi dan anjloknya permintaan pasar memaksa ayah dari beberapa anak ini memutar otak, hingga akhirnya ia memutuskan berpindah haluan menjadi pengrajin patung kayu sebagai urat nadi utama penghasilan keluarganya.

​Bermodalkan peralatan tradisional yang sangat sederhana, ketelatenan Ama diuji setiap hari. Dari potongan-potongan kayu tak terpakai yang dikumpulkannya, lahir beraneka ragam patung eksotis yang tidak hanya memikat mata, tetapi juga sarat akan nilai ekonomis serta merepresentasikan kekayaan budaya Sumba.

​”Kami memanfaatkan apa yang ada. Sesuatu yang dianggap limbah oleh orang lain, bagi kami adalah sumber kehidupan jika diolah dengan kreativitas dan ketekunan,” ungkap Ama sembari memperlihatkan salah satu pahatan kayunya yang setengah rampung.

​Namun, talenta besar dan semangat membara Ama kerap kali harus membentur dinding realitas yang keras. Pengembangan usaha mikro yang dirintisnya kini stagnan akibat minimnya modal usaha, keterbatasan teknologi peralatan kerja, serta tembok tebal akses pemasaran yang membuatnya kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas.

​Ama mengakui bahwa ia tidak bisa berjalan sendiri untuk naik kelas, sehingga ia sangat mendambakan uluran tangan dari pihak luar. Ia menaruh harapan besar agar Pemerintah Kabupaten Sumba Timur maupun para pemangku kepentingan yang peduli terhadap nasib pengrajin kecil dapat melirik potensi yang ia miliki.

​Menurutnya, Kabupaten Sumba Timur sebenarnya menyimpan gudang talenta seni ukir yang sangat melimpah pada diri masyarakatnya. Sayangnya, mutiara-mutiara terpendam ini dinilai belum mampu berkembang secara maksimal akibat minimnya fasilitas pendukung, pelatihan modern, serta pendampingan bisnis yang berkelanjutan.

​Oleh karena itu, Ama berharap Pemerintah Kabupaten Sumba Timur melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dapat segera turun tangan memberikan intervensi nyata. Bantuan berupa stimulus peralatan kerja modern, program pelatihan berkala, hingga fasilitasi promosi produk lokal dinilai menjadi kunci utama agar karya mereka mampu bersaing di kancah nasional.

​Dukungan konkret terhadap sektor ekonomi kreatif ini sejatinya tidak sekedar menyelamatkan dapur para pengrajin lokal seperti Ama. Lebih dari itu, langkah ini diyakini akan menjadi katalisator kuat dalam membuka lapangan kerja baru, memperkokoh pondasi ekonomi daerah, sekaligus menjaga nyala api seni ukir sebagai warisan budaya leluhur Sumba agar tidak punah ditelan zaman.

​(Alex Ratu Peha/Redaksi Brantas Tipikor News)