Scroll Untuk Lanjut Membaca

SUMBA TIMUR, BTN – Pembukaan Sidang Sinode ke-44 Gereja Kristen Sumba (GKS) di Jemaat Nggongi, Klasis Mahu Karera, Kabupaten Sumba Timur, Kamis (2/7/2026), dihadiri sejumlah pejabat penting, mulai dari Gubernur Nusa Tenggara Timur, para bupati se-Pulau Sumba, anggota DPR RI, hingga pimpinan Gereja Kristen Sumba. Namun, di balik kemeriahan acara tersebut, publik menunggu satu hal yang jauh lebih penting: hasil konkret yang mampu menjawab persoalan masyarakat. Kamis 2/07/2026

Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali hadir bersama Wakil Bupati Yonathan Hani, Sekretaris Daerah, dan jajaran OPD. Kehadiran para pemimpin daerah dinilai sebagai momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan gereja. Namun, komitmen tersebut akan diuji melalui kebijakan dan tindakan nyata setelah forum berakhir.

Selama ini, berbagai forum yang mempertemukan pemerintah dan tokoh agama kerap menghasilkan pernyataan komitmen, tetapi masyarakat masih menghadapi persoalan mendasar seperti kemiskinan, terbatasnya akses layanan kesehatan, kualitas pendidikan yang belum merata, infrastruktur dasar yang tertinggal, hingga minimnya lapangan pekerjaan.

Diskusi antara Pemerintah Provinsi NTT, para kepala daerah di Pulau Sumba, dan peserta Sidang Sinode semestinya tidak berhenti pada penyampaian gagasan. Forum ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi yang jelas, terukur, dan memiliki tenggat waktu pelaksanaan sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Sebagai lembaga yang memiliki jaringan hingga ke tingkat jemaat, GKS dinilai memiliki posisi strategis untuk menyuarakan persoalan riil masyarakat sekaligus mengawal implementasi kebijakan pemerintah. Karena itu, kemitraan antara gereja dan pemerintah seharusnya melahirkan program bersama yang menyentuh kebutuhan warga, bukan hanya memperkuat hubungan kelembagaan.

Publik kini menaruh harapan agar Sidang Sinode ke-44 menjadi titik awal lahirnya komitmen yang dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat tidak lagi membutuhkan banyak seremoni atau pidato, melainkan bukti bahwa dialog antara gereja dan pemerintah mampu diterjemahkan menjadi solusi atas persoalan yang selama ini belum terselesaikan.

Pada akhirnya, keberhasilan forum ini tidak akan diukur dari banyaknya pejabat yang hadir atau kemegahan pembukaan acara, tetapi dari sejauh mana keputusan dan rekomendasi yang dihasilkan mampu diwujudkan menjadi kebijakan yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Pulau Sumba.

 

Alex Ratu Peha.