KENDARI, BTN 29 Desember 2025 – Jagat pendidikan tinggi di Sulawesi Tenggara mendadak gempar di penghujung tahun. Sebuah dugaan praktik “mafia data” akademik mencuat ke permukaan setelah mahasiswi Universitas Halu Oleo (UHO), Ayu Amanda Putri, melakukan protes keras atas hilangnya identitas dirinya di pangkalan data nasional.
Ayu Amanda Putri (NIM: E1A117006), mahasiswi Program Studi Teknik Sipil angkatan 2017, harus menelan pil pahit. Identitas akademik yang ia bangun dengan tetesan keringat selama empat tahun,termasuk bukti tugas akhir berjudul “Evaluasi Kinerja Bangunan Pemecah Gelombang Sambung Pantai (Studi Kasus: Shore Connected Breakwater Marina Bypass, Kabupaten Wakatobi)”kini diduga telah “dihibahkan” secara paksa kepada orang lain.
Melalui video pengaduan yang viral, Ayu mengungkap fakta mengejutkan, namanya di sistem PDDikti secara misterius berubah menjadi nama “Basri”. Ia menegaskan bahwa sosok “Basri” tersebut tidak pernah mengikuti proses perkuliahan bersamanya, namun secara ajaib menguasai data NIM miliknya.
Kritik tajam kini mengarah pada sistem tata kelola data di Universitas Halu Oleo. Publik mempertanyakan bagaimana mungkin sistem keamanan data di level universitas bisa begitu ringkih, atau jangan-jangan, ada “tangan-tangan jahil” oknum internal yang sengaja memperjualbelikan identitas mahasiswa sah demi melegitimasi pihak tertentu yang ingin mendapatkan ijazah tanpa kuliah.
”Ini bukan sekedar kesalahan teknis, ini adalah kejahatan kemanusiaan dan akademik! Bagaimana mungkin keringat mahasiswa asli ditukar dengan kepentingan orang yang tidak pernah kuliah?” ungkap salah satu pengamat pendidikan merespons kasus ini.
Bukan hanya Ayu, dugaan skandal ini disinyalir hanyalah puncak dari gunung es. Dalam klaimnya, Ayu menyebutkan bahwa kasus serupa menimpa rekan-rekan sejawatnya di kampus yang sama. Jika hal ini benar, maka integritas Universitas Halu Oleo sebagai institusi pendidikan plat merah berada dalam ancaman besar. Ribuan data mahasiswa kini berada dalam bayang-bayang ketidakpastian,apakah besok nama mereka masih ada, atau sudah berganti menjadi nama orang lain?
Sejauh mana tanggung jawab Rektorat dan Pusat Teknologi Informasi (Pustik) UHO dalam melindungi data mahasiswanya? Hingga detik ini, belum ada tindakan nyata maupun pernyataan resmi yang mampu menenangkan kegaduhan ini.
Sampai berita ini ditayangkan pada Senin, 29 Desember 2025, redaksi media ini belum mendapatkan keterangan resmi atau klarifikasi dari pihak Universitas Halu Oleo terkait skandal perubahan data tersebut. Sikap bungkam dari pihak kampus semakin memperkuat kesan bahwa ada sesuatu yang “disembunyikan” di balik tembok birokrasi kampus hijau tersebut.
Ayu Amanda Putri mendesak pihak universitas untuk segera melakukan pemulihan data dan menunjukkan itikad baik. Publik pun menanti keberanian Rektor UHO untuk mengusut tuntas siapa dalang di balik manipulasi data ini. Jangan sampai kampus yang seharusnya menjadi tempat persemaian moral justru menjadi ladang subur bagi praktik premanisme data akademik.
Redaksi memberikan ruang seluas-luasnya bagi pihak Universitas Halu Oleo untuk memberikan klarifikasi demi keberimbangan informasi. Namun, selama bukti fisik di PDDikti tidak segera diperbaiki, maka mosi tidak percaya publik akan terus menghantam institusi ini.
Penulis.Ali.
Editor.Redaksi BTN






