Ampana– Sulteng BTN 29/04/2026-Praktik distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam skala besar dari Sulawesi Selatan menuju wilayah pertambangan di Siuna, Sulawesi Tengah, kini tengah menjadi sorotan tajam. Pergerakan armada yang membawa muatan ratusan Kiloliter (KL) ini memicu kecurigaan publik terkait legalitas dan transparansi distribusinya di tengah ketatnya aturan mengenai energi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Data yang berhasil dihimpun menunjukkan adanya mobilisasi masif dari dua entitas, yakni PT. Dewata Managresia Energi yang membawa muatan sebesar 600 ton,dengan 200 ton di antaranya diduga kuat mengarah ke Morowali,serta PT. Raja Disel asal Makassar yang mengerahkan sedikitnya delapan unit mobil tangki menuju Siuna.

​Ketajaman investigasi di lapangan mengungkapkan bahwa delapan armada milik PT. Raja Disel tersebut terdiri dari tangki berkapasitas 8.000 liter (8 KL) dan 16.000 liter (16 KL). Angka yang fantastis ini menjadi pertanyaan besar. apakah seluruh muatan tersebut murni BBM Industri, ataukah ada “penumpang gelap” berupa BBM bersubsidi yang dialihkan untuk kepentingan korporasi?

​Informasi terkini per Rabu (29/04), posisi armada tersebut dilaporkan telah melewati perbatasan dan memasuki wilayah Ampana. Namun, terpantau sebuah fenomena janggal di mana kendaraan-kendaraan tersebut tidak lagi bergerak dalam satu iring-iringan atau konvoi resmi sebagaimana layaknya distribusi logistik perusahaan besar.

​Muncul dugaan kuat adanya modus “pecah barisan,” di mana satu atau dua mobil tangki sengaja masuk lebih dulu secara terpisah. Strategi ini disinyalir merupakan upaya sistematis untuk mengelabui petugas di pos-pos pemeriksaan serta menghindari pemantauan mata publik yang kini semakin kritis terhadap hilir mudik kendaraan tambang.

​Upaya masuk secara eceran dan tidak beriringan ini memperkuat indikasi adanya sesuatu yang ingin disembunyikan. Jika distribusi ini legal dan memenuhi seluruh standar regulasi, lantas mengapa harus menggunakan taktik “kucing-kucingan” yang justru menambah kecurigaan masyarakat dan aktivis kontrol sosial di wilayah Banggai?

​Kritik pedas pun dialamatkan kepada aparat penegak hukum dan otoritas perbatasan. Pertanyaan mendasarnya adalah. bagaimana mungkin muatan sebesar ratusan KL yang dibawa dari Sulawesi Selatan bisa melenggang bebas melintasi berbagai kabupaten tanpa pemeriksaan dokumen yang mampu menghentikan laju armada jika memang ditemukan kejanggalan?

​Publik menilai pengawasan di jalur Trans Sulawesi seolah kehilangan “taringnya.” Lemahnya filter di setiap perbatasan kabupaten memunculkan spekulasi miring mengenai adanya oknum yang memberikan “lampu hijau” bagi para pemain BBM untuk terus merongrong kedaulatan energi di wilayah Sulawesi Tengah.

​Dalam kode etik jurnalistik, fungsi pers adalah melakukan kontrol sosial terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum. Distribusi BBM dalam volume raksasa ke area tambang tanpa transparansi yang jelas adalah ancaman serius bagi kestabilan pasokan energi lokal dan potensi kerugian negara jika terdapat unsur penyalahgunaan.

​Aparat Kepolisian di wilayah hukum Tojo Una-Una hingga Banggai didesak untuk tidak hanya menjadi penonton di pinggir jalan. Pemeriksaan fisik terhadap muatan dan verifikasi faktual terhadap dokumen delivery order (DO) serta manifest perjalanan menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.

​Pihak manajemen PT. Dewata Managresia Energi dan PT. Raja Disel hingga berita ini diturunkan belum memberikan klarifikasi resmi terkait taktik “pecah barisan” armadanya di lapangan. Sikap bungkam ini justru semakin menambah daftar panjang tanda tanya di benak masyarakat luas mengenai apa yang sebenarnya mereka bawa menuju Siuna.

​Masyarakat Siuna dan sekitarnya kini berada dalam posisi waspada. Mereka berharap agar wilayah mereka tidak hanya dijadikan ladang pengerukan kekayaan alam, sementara prosedur pendukungnya seperti distribusi BBM dilakukan dengan cara-cara yang mencederai keadilan dan melabrak aturan main yang berlaku.

​Investigasi ini tidak akan berhenti sampai di sini. Redaksi akan terus mengawal pergerakan setiap unit tangki tersebut hingga ke titik bongkar di Siuna, guna memastikan bahwa tidak ada satu liter pun hak rakyat yang dirampas oleh mafia BBM yang berlindung di balik kedok distribusi industri.

​Editor Berantastipikor