SALAKAN – BTN 08/02/3/2026-Kabupaten Banggai Kepulauan kembali menunjukkan taringnya sebagai lumbung kekayaan maritim. Kali ini, perhatian tertuju pada Teripang Laut (Holothuria scabra), atau yang akrab disapa “Topulu” oleh warga lokal. Komoditas ini bukan sekedar penghuni dasar laut, melainkan aset ekonomi bernilai tinggi yang berpotensi mengubah wajah ekonomi masyarakat pesisir.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Teripang pasir memiliki daya tarik yang sulit diabaikan. Dengan kandungan nutrisi yang kaya, biota ini menjadi primadona di pasar internasional, khususnya di Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Di sana, Topulu diolah menjadi bahan pangan mewah, obat-obatan, hingga produk kosmetik kelas atas.

​Harga di pasarannya pun cukup menggiurkan, yakni berkisar antara Rp300.000 hingga Rp3.000.000 per kilogram, tergantung kualitas dan ukuran.

​Selain nilai ekonominya, keberadaan teripang merupakan sertifikat alami bagi lingkungan. Teripang hanya dapat berkembang biak dengan baik di perairan dengan kualitas air, suhu, dan salinitas yang terjaga.

​”Kehadiran teripang di suatu perairan adalah indikator kuat bahwa ekosistem laut tersebut masih terjaga dengan baik,” tulis laporan teknis terkait komoditi ini.

​Memanfaatkan garis pantai sepanjang 830 kilometer, Banggai Kepulauan memiliki modal geografis yang luar biasa. Kabar baiknya, budidaya teripang tidak memerlukan modal besar. Masyarakat dapat menggunakan tambak sederhana dengan pemanfaatan limbah peternakan (pupuk kandang) sebagai sumber nutrisi tambahan.

​Saat ini, Yayasan Blue Alliance Indonesia tengah melakukan riset pengembangan di Kecamatan Buko Selatan menggunakan keramba prototipe. Langkah ini merupakan titik awal menuju industrialisasi teripang yang mandiri di daerah.

​”Jika percobaan ini berhasil, kami akan menindaklanjutinya dengan pembangunan laboratorium pembenihan. Tujuannya adalah mendukung produksi massal yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Idham Farsha, Manajer Yayasan Blue Alliance Indonesia Banggai Kepulauan.

​Dengan masa panen antara 8 hingga 12 bulan, budidaya Topulu diproyeksikan menjadi pilar ekonomi baru. Sifatnya yang tidak memerlukan perawatan khusus menjadikannya opsi usaha sampingan maupun utama yang sangat prospektif bagi nelayan.

​Pengembangan riset ini diharapkan mampu mendongkrak kesejahteraan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut di Banggai Kepulauan, memastikan “Emas Hitam” ini tetap lestari untuk generasi mendatang.

​Penulis: Simbil

Editor: Pimred