PALLA, SBD, BTN – Duka mendalam menyelimuti Desa Djela Manu, Kecamatan Wewewa Utara. Sebuah tragedi memilukan terjadi di Dusun Tiga, Tillu Mareda, pada Senin (16/3/2026) sekitar pukul 10:30 WITA. Tebing tanah yang tiba-tiba runtuh merenggut nyawa dua anak di bawah umur dan menyebabkan seorang warga dewasa luka parah.
Peristiwa naas ini bermula ketika para korban sedang bergotong royong mengambil tanah yang rencananya akan digunakan untuk pembangunan Gereja di Kampung Mareda Kalada. Namun, niat mulia tersebut justru berujung maut saat struktur tanah di atas mereka mendadak labil dan ambruk seketika.
Berdasarkan data yang dihimpun dari pihak Kepolisian Resor (Polres) Sumba Barat Daya, bencana ini memakan empat korban, dengan rincian sebagai berikut:
Sardianto Rato Pote (7): Pelajar SD, meninggal dunia di lokasi akibat tertimbun material longsor.
Arjuna Saputra Ate (12): Pelajar SD, meninggal dunia di lokasi setelah tertimbun reruntuhan tanah.
Andreas Bili (56): Petani, mengalami luka berat di bagian kepala dan saat ini dalam kondisi kritis di RSUD Waikabubak.
Juandri Saputra Ina Ngele (9): Berhasil menyelamatkan diri sesaat sebelum longsoran besar menghantam.
Saksi mata dan otoritas kepolisian menyebutkan bahwa saat kejadian, Sardianto dan Arjuna berada di titik paling rawan. Ketika tanah mulai runtuh, kedua bocah malang tersebut tidak sempat menyelamatkan diri dan langsung tertimbun.
Melihat kejadian tersebut, Andreas Bili (56) secara heroik berusaha menerjang timbunan tanah untuk menyelamatkan kedua anak tersebut. Namun nahas, longsor susulan yang lebih besar kembali terjadi. Material tanah menghantam keras bagian kepala Andreas hingga ia jatuh tak berdaya dan mengalami cedera serius.
Sementara itu, korban lainnya, Juandri Saputra, berhasil lolos dari maut setelah merespons cepat getaran tanah dan melarikan diri tepat sebelum tebing menyapu lokasi mereka berdiri.
Tim SAR bersama aparat Polres SBD segera terjun ke lokasi setelah menerima laporan warga untuk melakukan evakuasi. Jenazah kedua korban meninggal dunia telah diserahkan kepada pihak keluarga di rumah duka untuk diproses secara adat dan pemakaman.
”Kami terus memantau perkembangan di lapangan, baik kondisi korban luka yang tengah berjuang di RSUD Waikabubak, maupun situasi di titik longsor guna mengantisipasi adanya ancaman susulan,” tegas salah satu pejabat APH Polres SBD.
Tragedi ini menjadi peringatan keras bagi warga SBD akan pentingnya kewaspadaan ekstra terhadap kondisi geografis saat melakukan aktivitas fisik, terutama di area perbukitan yang rawan pergeseran tanah.
Laporan: Kabiro SBD, Eman Ledu






