​LUBUKLINGGAU, BTN – Sebuah potret hitam pelayanan publik mencoreng wajah Kota Lubuklinggau malam ini, Senin (16/03/2026). Selama 90 menit mencekam, mulai pukul 19.00 hingga 20.27 WIB, RS Siti Aisyah—yang seharusnya menjadi benteng terakhir keselamatan nyawa—berubah drastis menjadi “kuburan” gelap gulita. Bukan karena bencana, melainkan karena kebobrokan manajemen: Genset rumah sakit rusak total. 17/03/2026

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Kenyataan memuakkan ini terungkap dari kejujuran pahit petugas di lapangan. Saat keluarga pasien panik mencari kepastian di tengah kegelapan, petugas tiket parkir justru memberikan jawaban yang sangat menyakitkan: “Gensetnya rusak.”

​Pernyataan ini bukan sekadar kendala teknis, melainkan tamparan keras bagi kredibilitas manajemen RS Siti Aisyah. Bagaimana mungkin sebuah rumah sakit rujukan yang setiap tahunnya “menelan” anggaran pemeliharaan bernilai fantastis, membiarkan jantung cadangan listriknya membusuk menjadi besi tua?

​Matinya listrik selama 1,5 jam di fasilitas kesehatan adalah sebuah tindakan fatal yang mendekati kriminalitas manajerial. Di balik tembok yang gelap itu, ada pasien di ruang ICU yang bergantung pada alat pacu jantung, bayi prematur di dalam inkubator, hingga pasien operasi yang nasibnya berada di ujung tanduk.

Mati lampu di rumah sakit itu bukan kendala teknis, itu pembunuhan berencana melalui kelalaian! Bayangkan pasien yang sedang sesak napas butuh bantuan alat. Ini sangat memalukan dan biadab!” ujar salah satu keluarga pasien dengan nada bergetar menahan amarah.

​Masyarakat kini melayangkan mosi tidak percaya kepada Pemerintah Kota Lubuklinggau dan pihak manajemen RS Siti Aisyah. Publik berhak menuntut jawaban atas pertanyaan-pertanyaan krusial:

  1. ​Ke mana larinya dana perawatan berkala? Apakah anggaran tersebut hanya menguap di atas kertas sementara mesin dibiarkan karatan?
  2. ​Siapa yang akan bertanggung jawab jika kegagalan sistemik ini memakan korban jiwa?
  3. ​Mengapa pengawasan dari Dinas Kesehatan dan Dewan Pengawas seolah “mandul” hingga fasilitas vital dibiarkan terbengkalai?

​Tragedi Senin malam ini adalah bukti sahih bahwa sistem pengawasan di RS Siti Aisyah telah kolaps. Kementerian Kesehatan di Jakarta tidak boleh tinggal diam. Inspeksi mendadak dan audit investigatif terhadap dana pemeliharaan harus segera dilakukan.

​Jangan biarkan rakyat Lubuklinggau terus bertaruh nyawa di bawah kepemimpinan manajemen yang lebih peduli pada administrasi daripada nyawa manusia. RS Siti Aisyah tidak butuh wajah baru, ia butuh nurani dan integritas yang sudah lama mati.