PINUPAHAR, BTN — Kondisi gedung Sekolah Dasar Masehi (SDM) Tawui, Kecamatan Pinupahar, Kabupaten Sumba Timur, memprihatinkan. Plafon rusak, kaca jendela bermasalah, seng atap berkarat, hingga lantai yang pecah-pecah menjadi gambaran kondisi fasilitas pendidikan yang membutuhkan perhatian serius. 10/10/2026
Berdasarkan pantauan Kabiro Berantas Tipikor New bersama Ketua Komite SDM Tawui, Andreas Dundu Tay, kerusakan sejumlah bagian bangunan sekolah tersebut menjadi persoalan yang tidak seharusnya dibiarkan berlarut-larut.
Di sekolah itu, sebanyak 193 murid menimba ilmu dan menggantungkan harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Namun, kondisi bangunan yang membutuhkan perbaikan memunculkan kekhawatiran, terutama ketika musim hujan tiba dan proses belajar mengajar berpotensi terganggu.
Persoalannya kini bukan sekadar bangunan yang rusak. Pertanyaan yang patut dijawab adalah sejauh mana perhatian pemerintah terhadap kebutuhan fasilitas pendidikan di wilayah Kecamatan Pinupahar?
Kerusakan plafon, kaca jendela, seng yang berkarat, dan lantai yang pecah-pecah menjadi catatan penting dari hasil pantauan di SDM Tawui.
Kondisi tersebut perlu segera diperiksa oleh pihak berwenang untuk memastikan tingkat kerusakan dan menentukan langkah perbaikan yang dibutuhkan.
Sekolah semestinya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar. Karena itu, kondisi bangunan yang mengalami kerusakan tidak boleh hanya menjadi persoalan yang terus dikeluhkan tanpa kejelasan tindak lanjut.
Bagi 193 murid SDM Tawui, fasilitas pendidikan yang layak bukanlah tuntutan berlebihan. Mereka membutuhkan lingkungan belajar yang mendukung kegiatan belajar mengajar secara optimal.
Ketua Komite SDM Tawui, Andreas Dundu Tay, kepada wartawan Berantas Tipikor New mengungkapkan bahwa pihaknya telah beberapa kali mengusulkan perbaikan gedung sekolah kepada dinas terkait.
Menurut Andreas, usulan tersebut juga telah disampaikan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan. Namun, ia mengaku belum melihat realisasi perbaikan yang diharapkan.
“Kami sudah beberapa kali mengusulkan kepada dinas terkait. Dalam Musrenbang kecamatan juga sudah kami usulkan, tetapi yang kami harapkan belum terealisasi. Kasihan anak-anak kami yang berjumlah 193 murid. Mereka membutuhkan gedung sekolah yang layak,” ungkap Andreas.
Ia mengkhawatirkan kondisi bangunan tersebut dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar ketika musim hujan tiba.
Andreas berharap pemerintah tidak membiarkan persoalan itu berlarut-larut, mengingat sekolah merupakan tempat anak-anak memperoleh ilmu dan mempersiapkan masa depan mereka.
Andreas meminta Pemerintah Kabupaten Sumba Timur serta anggota DPRD yang membidangi pendidikan agar memberikan perhatian serius terhadap kondisi SDM Tawui.
Ia berharap ada peninjauan langsung dan langkah konkret untuk memperbaiki bagian bangunan yang rusak.
“Kami meminta Pemda Sumba Timur dan anggota DPRD yang membidangi pendidikan agar memperhatikan sekolah kami. Kalau tidak ada perhatian dari pemerintah, kira-kira kami harus mengadu kepada siapa lagi? Kasihan anak-anak kami yang menimba ilmu di sekolah ini,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi seruan dari komite sekolah agar kebutuhan pendidikan di Kecamatan Pinupahar mendapatkan perhatian yang semestinya.
Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan pemeriksaan terhadap kondisi bangunan, menyusun langkah penanganan sesuai tingkat kerusakan, serta memberikan kejelasan mengenai tindak lanjut usulan perbaikan yang telah disampaikan.
Kerusakan fasilitas sekolah membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar menjadi catatan dalam usulan pembangunan.
Pemeriksaan terhadap plafon, kaca jendela, seng atap, dan lantai perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat kerusakan serta menentukan prioritas perbaikan. Langkah tersebut penting agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dalam lingkungan yang lebih aman dan nyaman.
Bagi Andreas Dundu Tay dan para orang tua murid, harapannya sederhana: anak-anak mereka dapat belajar dengan baik tanpa terus dibayangi kekhawatiran terhadap kondisi gedung sekolah.
Kini, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dan pihak terkait dihadapkan pada kebutuhan nyata di SDM Tawui. Sebanyak 193 murid menunggu perhatian, sementara komite sekolah mengaku telah berulang kali mengusulkan perbaikan.
Pemda Sumba Timur ke mana? Pertanyaan ini menjadi pengingat bahwa pemerataan pendidikan bukan hanya tentang memastikan anak-anak masuk sekolah, tetapi juga memastikan mereka memperoleh fasilitas belajar yang layak.
Berantas Tipikor New akan terus mendorong perhatian terhadap persoalan fasilitas pendidikan dan berharap pemerintah daerah memberikan penjelasan serta tindak lanjut atas keluhan komite SDM Tawui.
Piter kabiro Sumba Timur






