SURABAYA, BTN – Senin, 29/06/2026, Aliansi Madura Indonesia (AMI) melayangkan kecaman dan kutukan keras terhadap tindakan tidak bertanggung jawab dari segelintir oknum massa aksi demonstrasi. Oknum-oknum tersebut diduga kuat sengaja melakukan upaya perusakan fasilitas umum serta memicu pembakaran di kawasan cagar budaya depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada Sabtu (27/6/2026).
Insiden yang mencederai kesucian ruang publik ini langsung memantik reaksi dari berbagai elemen masyarakat sipil. AMI menilai, tindakan anarkis yang dipertontonkan oleh oknum perusuh tersebut telah mencoreng marwah pergerakan mahasiswa dan aktivis di Jawa Timur, yang selama ini dikenal selalu mengedepankan intelektualitas dan kedamaian.
Ketua Umum AMI menegaskan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum merupakan hak konstitusional yang sakral bagi setiap warga negara. Hak politik tersebut dijamin penuh oleh undang-undang dan wajib dilindungi, namun proses penyampaiannya mutlak harus berjalan di atas koridor hukum yang berlaku.
AMI mengingatkan bahwa dalam iklim demokrasi, kebebasan yang kebablasan tanpa tanggung jawab justru akan melahirkan anarki. Menyampaikan aspirasi seharusnya dilakukan secara tertib, damai, dan mengedepankan komunikasi yang sehat, bukan justru merugikan masyarakat luas dengan merusak aset-aset negara yang dibangun dari uang rakyat.
Perbuatan merusak infrastruktur publik dan menyulut api di jalanan tidak dapat ditoleransi atau dibenarkan dengan dalih dan alasan apa pun. Tindakan kriminal berkedok demonstrasi tersebut dinilai secara nyata telah mencederai nilai-nilai luhur demokrasi dan meruntuhkan citra positif gerakan masyarakat sipil di mata publik.
Lebih jauh lagi, dampak dari aksi anarkis ini tidak hanya merugikan secara materiil akibat kerusakan fasilitas kota, tetapi juga berpotensi memicu stabilitas keamanan kota Surabaya menjadi terganggu. Hal ini tentu menimbulkan rasa tidak aman dan ketakutan bagi warga yang sedang beraktivitas di sekitar lokasi kejadian.
Merespons situasi panas tersebut, Aliansi Madura Indonesia menyatakan dukungan penuhnya kepada aparat penegak hukum, khususnya kepolisian, untuk bertindak taktis. AMI mendesak agar polisi mengusut tuntas aktor intelektual maupun pelaku lapangan yang terbukti melakukan tindakan melawan hukum dalam aksi anarkis tersebut.
Penegakan hukum yang profesional, transparan, dan tanpa pandang bulu sangat diperlukan saat ini guna menjaga wibawa hukum serta memberikan efek jera yang nyata. Jangan sampai ada pembiaran terhadap oknum-oknum yang ingin menunggangi murninya gerakan moral demi kepentingan kelompok tertentu.
Melalui rilis resmi ini, AMI juga mengetuk hati dan mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari aktivis, organisasi kemasyarakatan (ormas), mahasiswa, hingga kelompok pemuda, untuk tetap menahan diri. Semua pihak diimbau untuk selalu mengedepankan cara-cara yang damai, santun, dan bermartabat dalam menyuarakan tuntutan.
Sinergi dan kedewasaan dalam berpolitik sangat dibutuhkan demi terciptanya iklim demokrasi yang sehat, kondusif, dan aman di Jawa Timur. Jalan dialog dan adu argumentasi berbasis data dinilai jauh lebih efektif dalam mengetuk pintu kebijakan para penguasa ketimbang merusak fasilitas umum.
Sebagai penutup, AMI kembali mengingatkan bahwa esensi tertinggi dari demokrasi sejati harus dirawat dengan musyawarah, nalar kritis, dan penghormatan absolut terhadap hukum. Masa depan bangsa ini terlalu berharga jika harus dikorbankan oleh tindakan kekerasan, perusakan, maupun pembakaran yang destruktif.
(Mr Abu Nawas)






