GORONTALO — BTN 21/02/2026-Slogan “Subsidi Tepat” milik Pertamina seolah menjadi pepesan kosong di pesisir Talumolo. Di balik deru mesin kapal yang terdiam, tercium aroma busuk dugaan praktik mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang secara sistematis merampas hak-hak nelayan kecil.
Kondisi ini bukan sekedar kendala teknis distribusi, melainkan potret nyata bobroknya pengawasan yang membiarkan “tikus-tikus” kuota berpesta di atas penderitaan rakyat pesisir.
Jeritan nelayan Talumolo menjadi bukti sahih adanya ketimpangan. Logika publik dikoyak,bagaimana mungkin pasokan yang diklaim pemerintah “mencukupi” bisa ludes dalam sekejap tepat setelah mobil tangki melakukan bongkar muat?
”Kami datang pagi-pagi buta, tapi jawabannya selalu sama,habis. Anehnya, sebelum kami masuk, antrean jeriken siluman sudah mengular. Siapa mereka? Mengapa mereka didahulukan?” keluh seorang nelayan dengan nada getir.
Berdasarkan investigasi di lapangan, kuat dugaan terjadi praktik pengisian berulang (dumping) menggunakan jeriken dalam skala masif. Praktik “penyulapan” BBM bersubsidi ini disinyalir melibatkan oknum terorganisir yang memanfaatkan celah pencatatan distribusi yang longgar.
Stasiun pengisian di Talumolo kini berada di bawah bidikan kritik tajam. Publik mempertanyakan,di mana fungsi kontrol PT Pertamina (Persero)? Jika sistem digitalisasi dan pengawasan melalui CCTV yang selama ini dibanggakan benar-benar berfungsi, mengapa praktik kasat mata ini bisa melenggang bebas tanpa sanksi?
Absennya klarifikasi resmi hingga saat ini justru mempertebal kecurigaan publik adanya “main mata” antara pengelola lapangan dengan para pemain BBM ilegal. Diamnya pihak otoritas adalah bentuk pembiaran yang melukai rasa keadilan masyarakat.
Kasus Talumolo adalah alarm keras bagi penegak hukum. Masyarakat mendesak,Buka data manifes distribusi harian vs realitas penyaluran di lapangan. Aparat Penegak Hukum (APH) jangan hanya menjadi penonton. Bongkar jaringan mafia ini hingga ke akarnya, termasuk oknum internal jika terbukti terlibat.
Jika terbukti ada penyelewengan, Pertamina harus berani mencabut izin pengelola tanpa pandang bulu.
BBM bersubsidi adalah uang rakyat. Membiarkannya bocor ke tangan mafia adalah bentuk pengkhianatan terhadap konstitusi. Jika negara kalah melawan mafia BBM di tingkat pesisir seperti Talumolo, maka jangan harap ketahanan energi nasional bisa terwujud. Nelayan butuh solar untuk melaut, bukan janji manis di atas kertas rilis pers yang normatif.
Irfan






