SUMBA BARAT DAYA, BTN – Aksi premanisme brutal pecah di Eru Naga, Desa Wee Limbu, Kecamatan Wewewa Timur. Seorang pemuda bernama Umbu menjadi korban pengeroyokan sadis oleh sekelompok massa pada 13 Maret 2026. Meski korban menderita luka tebasan parang yang mengerikan, hingga detik ini para pelaku dilaporkan masih menghirup udara segar tanpa tersentuh hukum. 19/03/2026
Peristiwa berdarah ini terjadi sekitar pukul 11.00 WITA. Niat tulus Umbu untuk menemani ibu kandungnya menjaga kios berubah menjadi petaka. Tanpa ampun, sekelompok masyarakat menyerbu dan menghujani korban dengan lemparan batu serta tebasan senjata tajam.
Akibat serangan membabi buta tersebut, Umbu mengalami luka serius di bagian wajah, tulang kering, paha, hingga kedua kakinya. Jimmi (kakak korban) dan Toni yang mencoba melerai pun tak luput dari amukan massa.
Keluarga korban secara gamblang menyebutkan inisial para terduga pelaku utama, yakni M, D, A, R, dan EK. Laporan polisi telah resmi dilayangkan ke Polsek Wewewa Timur pada 14 Maret 2026, dan hasil visum dari RSUD Waikabubak telah dikantongi per 18 Maret 2026.
Namun, yang menjadi tanda tanya besar bagi publik adalah: Mengapa Polsek Wewewa Timur belum juga melakukan penangkapan?
Anak saya disiksa seperti binatang! Kami sudah lapor, sudah visum, tapi pelaku masih bebas berkeliaran. Di mana keadilan bagi kami orang kecil?” tangis Yohana Wola Gole, ibu kandung korban, dengan nada menyayat hati.
Meltri Paul, S.H., selaku Kuasa Hukum korban, mengecam keras lambannya respons kepolisian di wilayah hukum Polres Sumba Barat Daya. Ia menilai pembiaran ini dapat memicu konflik horizontal yang lebih besar jika masyarakat merasa hukum tidak lagi berfungsi.
”Sangat disayangkan, bukti sudah jelas, identitas pelaku sudah ada, tapi belum ada tindakan pengamanan (penangkapan). Kami mendesak Polsektor Wewewa Timur dan Polres SBD untuk segera menyeret para pelaku ke sel tahanan. Jangan sampai ada kesan APH melakukan pembiaran terhadap tindak pidana murni ini!” tegas Meltri Paul dengan nada tinggi.
Kasus Wee Limbu kini menjadi ujian bagi kredibilitas Polres Sumba Barat Daya. Publik menunggu, apakah polisi akan bertindak sebagai pelindung masyarakat, atau justru menjadi penonton di tengah aksi kriminalitas yang merajalela.
Keluarga korban menegaskan tidak akan tinggal diam sampai para pelaku pembacokan dan pengeroyokan ini memakai baju tahanan. “Tangkap atau kami anggap hukum di SBD sudah mati!” pungkas salah satu kerabat korban.
Kabiro SBD: Eman Ledu






