BANGGAI LAUT – BTN 02/04/2926-Publik Banggai Laut disuguhi pemandangan kontras di Desa Matanga. Ikhwan Akhir Zaman, politisi yang selama ini dikenal vokal di panggung kekuasaan, tiba-tiba menanggalkan kemeja formalnya dan mengenakan celemek. Bersama istrinya, Melsi Sampelan, ia meresmikan “Warung Berkah Ibu Melsi.” Namun, di balik aroma ayam geprek dan nasi goreng rempah, muncul pertanyaan kritis. Apakah ini bentuk tulus pengabdian akar rumput, atau sekedar pelarian politik pasca-hiruk-pikuk kekuasaan?

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Langkah Ikhwan membuka warung nasi sering kali dipandang sebagai upaya mendekatkan diri kepada rakyat secara organik. Dalam narasinya, ia menyebut memberi makan orang lapar sebagai ibadah. Namun, bagi pengamat politik lokal, fenomena politisi yang tiba-tiba “merakyat” lewat usaha kuliner bukanlah hal baru. Ini sering kali menjadi strategi menjaga basis massa tetap hangat sembari menunggu momentum politik berikutnya.

​Menu seperti Ayam Lalapan dan Ayam Geprek memang merakyat, tapi apakah keberadaan warung ini benar-benar berdampak sistemik pada ekonomi Desa Matanga, atau hanya menjadi panggung baru bagi sang politisi untuk tetap relevan di mata konstituen?

​Label “Berkah” yang disematkan pada warung ini membawa beban moral yang besar. Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, penggunaan narasi “harga merakyat” dan “pengabdian” sering kali menjadi tameng yang efektif untuk menghindari kritik atas kegagalan kebijakan politik yang mungkin pernah ia dukung atau suarakan sebelumnya.

​”Politik itu pengabdian,” ujar Ikhwan. Namun, publik patut menagih.jika saat menjabat atau aktif di partai politik pengabdian itu belum dirasakan nyata secara luas, apakah lewat sepiring nasi goreng semua dosa politik bisa terampuni?

​Membangun ekonomi lokal dengan menyerap bahan dari pasar sekitar adalah janji manis. Namun, tantangan terbesarnya adalah konsistensi. Jangan sampai warung ini hanya menjadi “monumen sementara” yang akan ditinggalkan begitu kursi kekuasaan kembali melambai.

​Masyarakat Banggai Laut, khususnya di Banggai Selatan, kini tak hanya akan menilai rasa sambal Ibu Melsi, tapi juga kejujuran niat di balik setiap piring yang disajikan. Apakah Ikhwan benar-benar ingin menjadi pelayan masyarakat, atau hanya sedang beristirahat di dapur sebelum kembali “memasak” strategi di panggung politik?

Jein