SUMBA TIMUR, BTN – Di tengah gencar atau riuhnya program peningkatan mutu pendidikan nasional yang digelorakan pemerintah, potret buram justru tersaji di beranda Sekolah Dasar Negeri (SDN) Napu. Terletak di Desa Napu, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, kondisi fisik sekolah ini jauh dari kata layak. Bangunan yang menjadi tumpuan harapan masa depan anak-anak sedesa itu kini berdiri dengan kondisi rusak berat, sekaligus terus mengintai keselamatan jiwa penghuninya. 10/07/2026
Pantauan langsung di lokasi menunjukkan ruang-ruang kelas yang tak ubahnya seperti fasilitas yang terabaikan. Atap-atap bangunan terlihat keropos, sementara plafon di sejumlah ruangan telah jebol dan menyisakan material rapuh yang bergelantungan. Setiap detik dalam proses belajar mengajar di tempat ini berubah menjadi pertaruhan nyawa, di mana material bangunan sewaktu-waktu bisa runtuh menimpa kepala siswa dan guru.
Ironi pendidikan di SDN Napu tidak berhenti pada rapuhnya struktur pelindung atas. Masuk lebih dalam ke ruang kelas, pemandangan memprihatinkan kembali menyapa lewat fasilitas penunjang yang hancur berantakan. Meja dan kursi belajar banyak yang patah, lemari penyimpanan buku lapuk termakan usia, hingga papan tulis yang tak lagi mumpuni untuk menggoreskan ilmu pengetahuan.
Kondisi yang serba memprihatinkan ini secara otomatis memicu tanda tanya besar dari kalangan publik maupun wali murid. Bagaimana mungkin sebuah tempat yang melahirkan generasi penerus bangsa dibiarkan beroperasi dalam kondisi yang mengancam nyawa? Mengapa hingga hari ini belum ada tindakan preventif yang konkret, seolah-olah keselamatan anak-anak di pelosok Sumba Timur diposisikan di urutan paling buncit?
Pertanyaan mendasar pun kini mengarah tajam kepada instansi-instansi terkait yang memegang kebijakan. Publik mendesak kejelasan mengenai sejauh mana proses pendataan, pengawasan, hingga perencanaan alokasi anggaran perbaikan yang pernah disusun untuk SDN Napu. Jika memang rencana itu sudah ada di atas kertas, mengapa realisasinya di lapangan masih nihil dan terkesan jalan di tempat?
Menunda-nunda renovasi terhadap fasilitas publik yang rusak parah seperti ini sama saja dengan memelihara bom waktu yang siap meledak kapan saja. Mengabaikan aspek keselamatan dalam ruang lingkup pendidikan adalah bentuk kelalaian fatal. Pemerintah tidak boleh menunggu jatuhnya korban jiwa terlebih dahulu baru kemudian sibuk saling melempar tanggung jawab birokrasi.
Pendidikan yang bermartabat hanya bisa lahir dari lingkungan yang aman dan nyaman. Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur bersama Dinas Pendidikan setempat dituntut untuk segera keluar dari zona nyaman perkantoran dan turun langsung melakukan inspeksi mendadak ke Desa Napu. Kebijakan darurat harus segera diambil demi menyelamatkan psikologis dan fisik anak-anak yang ketakutan saat belajar.
Langkah konkret yang paling mendesak saat ini adalah penyediaan ruang belajar darurat yang aman atau segera mengucurkan anggaran rehabilitasi total secara transparan. Sinergi lintas sektor di tingkat daerah harus segera digerakkan agar hak anak-anak Sumba Timur untuk mendapatkan ruang kelas yang layak, tidak kalah saing dengan anak-anak di kota-kota besar.
Masyarakat dan orang tua murid kini hanya bisa berharap agar suara jeritan dari Haharu ini tidak berlalu begitu saja ditiup angin malam. Mereka membutuhkan bukti nyata, bukan sekedar janji manis politik atau nota kesepahaman yang menumpuk di meja kerja dinas tanpa ada ketukan palu realisasi eksekusi fisik bangunan.
Sebagai komitmen dalam mengawal isu-isu kemanusiaan dan pelayanan publik, media ini akan terus memantau dan memperbarui perkembangan dari SDN Napu secara berkala. Ruang klarifikasi, konfirmasi, dan tanggapan dari pihak berwenang akan terus dibuka lebar demi menyajikan jurnalisme yang berimbang, objektif, dan berorientasi pada solusi demi masa depan anak bangsa.






