Scroll Untuk Lanjut Membaca

​SUMBA TIMUR, BTN – Turnamen Pacuan Kuda Karya Cup 2026 resmi menutup tirainya di Arena Pacuan Kuda Malelu-Laitena, Kecamatan Lewa Tidahu, pada Senin (29/6). Ribuan pasang mata memadati tribun, sorak-sorai penonton menggema, sementara deretan pejabat pemerintah dan anggota legislatif tampak anggun menghadiri seremoni penutupan. Di permukaan, acara ini adalah sebuah kesuksesan besar yang sukses menghibur masyarakat maritim Sumba. 30/06/2026

​Namun, begitu debu di lintasan balap mereda dan para penonton kembali ke rumah, sebuah pertanyaan krusial mulai mengapung ke permukaan. Publik kini mulai mempertanyakan, apakah perhatian Pemerintah Kabupaten Sumba Timur terhadap olahraga berkuda ini hanya akan mandek sebagai komoditas seremoni tahunan, ataukah benar-benar akan diterjemahkan ke dalam cetak biru (blueprint) kebijakan yang berdampak nyata?

​Selama ini, pacuan kuda tradisional Sumba atau yang akrab dikenal dengan Palapang Parangga selalu digaungkan sebagai ikon budaya adiluhung sekaligus aset premium pariwisata. Sayangnya, narasi besar tersebut dinilai belum berbanding lurus dengan langkah konkret di lapangan untuk memperkuat pembinaan atlet (joki), meningkatkan standardisasi kualitas arena, hingga memperluas jangkauan promosi ke tingkat internasional.

​Setiap kali derap kaki kuda berlari di arena, denyut ekonomi lokal sebenarnya ikut berputar kencang. Mulai dari pedagang kaki lima, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), penyedia jasa transportasi, hingga sektor kuliner musiman meraup berkah finansial yang tidak sedikit. Potensi ekonomi yang masif inilah yang seharusnya menjadi cambuk bagi pemerintah untuk menyusun strategi jangka panjang yang visioner.

​”Turnamen seperti ini adalah berkah musiman bagi kami. Namun, kami butuh kepastian agar ekosistem pariwisata berbasis budaya ini bisa menghidupi kami sepanjang tahun, bukan hanya saat ada piala yang diperebutkan,” ungkap salah seorang pelaku UMKM di sekitar Arena Malelu-Laitena.

​Dalam sambutan penutupan yang dibacakan perwakilan Bupati Sumba Timur, pihak eksekutif kembali mempertegas komitmen mereka untuk melestarikan warisan leluhur ini dan menjadikannya sebagai daya tarik wisata utama. Kendati demikian, di era keterbukaan informasi seperti sekarang, janji-janji normatif di atas podium kini dituntut untuk segera dibuktikan melalui program kerja yang terukur dan memiliki target yang jelas.

​Masyarakat Sumba Timur tampaknya sudah mulai jenuh dengan sekedar pidato apresiasi dan tepuk tangan formalitas. Yang hari ini dinantikan oleh para pemilik kuda, joki, dan pencinta kebudayaan adalah intervensi kebijakan yang nyata—seperti perbaikan infrastruktur paddock, jaminan keselamatan bagi joki anak, pembinaan berkala, serta transparansi anggaran dalam setiap program pengembangan olahraga ini.

​Membiarkan pacuan kuda berjalan tanpa pengelolaan profesional yang modern dinilai sebagai pemborosan potensi. Jika dikemas secara serius dengan regulasi yang berpihak pada pelestarian budaya, olahraga ekstrem nan eksotis ini tidak hanya akan menarik minat wisatawan domestik, tetapi juga mampu memikat para investor pariwisata dan pencinta olahraga berkuda dari mancanegara.

​Karya Cup 2026 kini telah usai, meninggalkan catatan penting bagi sejarah olahraga di Bumi Sandalwood. Kini bola panas berada di tangan pemerintah daerah untuk menentukan arah ke mana Palapang Parangga ini akan dibawa berlayar di masa depan.

​Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah festival budaya bukanlah dari seberapa mewah panggung penutupan atau seberapa banyak pejabat yang hadir. Keberhasilan sejati diukur dari sejauh mana tradisi pacuan kuda ini mampu bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi rakyat, benteng pelestarian budaya yang kokoh, serta kebanggaan Sumba Timur yang disegani di panggung nasional.

 

Piter Kabiro, Sumba Timur.