BANGGAI KEPULAUAN – BTN 03/03/2026-Potret buram pelayanan kesehatan di Kabupaten Banggai Kepulauan kembali terkuak dan memicu kecaman. Puskesmas Totikum Selatan kini berada di bawah sorotan tajam setelah dugaan pembiaran pasien terjadi pada Senin (03/03/2026). Seorang balita yang tengah berjuang melawan demam dan batuk hebat terpaksa dibawa pulang keluarganya setelah “disandera” ketidakpastian kehadiran dokter selama berjam-jam.
Sardin Selong, S.Pd.I, warga Desa Kalumbatan, membeberkan pengalaman pahitnya saat mencari keadilan medis. Tiba sejak pukul 08.00 WITA saat puskesmas masih sepi, ia berharap anaknya segera mendapat penanganan. Namun, hingga jarum jam melewati pukul 10.00 WITA dan pasien mulai membeludak, sosok dokter yang dinanti tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
“Anak kecil sudah gelisah, panas tinggi, mata merah karena batuk terus-menerus. Kami menunggu lebih dari dua jam di ruang tunggu yang kosong tanpa kepastian. Ini bukan pelayanan, ini pengabaian!” tegas Sardin dengan nada berang.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala UPTS Kesehatan Puskesmas Totikum Selatan, Brusli I. Sabuntak, A.Md.Kep, mencoba memberikan klarifikasi. Ia berdalih bahwa dokter sebenarnya ada di tempat, namun sedang melayani pasien lain. Ia juga mengeluhkan minimnya tenaga dokter yang bertugas di wilayahnya.
“Benar ada pasien tadi, hanya saja dokter masih melayani pasien lain. Setelah selesai, dokter langsung menuju ruangan, tetapi pasiennya sudah tidak ada. Dokter kami cuma satu, sudah lama diusulkan penambahan tapi belum ada realisasi. Jadi dokternya agak terlambat jika semua minta cepat,” ujar Brusli I. Sabuntak saat dikonfirmasi.
Namun, pembelaan tersebut justru memicu serangan balik yang lebih keras. Sardin Selong membantah telak klaim Kapus yang menyebut dokter sedang sibuk di ruangan lain.
“Pernyataan Pak Kapus itu bertolak belakang dengan kenyataan! Karena jenuh menunggu, saya sendiri yang berkeliling masuk ke semua ruangan untuk mencari keberadaan dokter. Hasilnya nihil. Satu batang hidung dokter pun tidak saya temukan di dalam puskesmas saat itu. Jangan buat alasan yang mengada-ada untuk menutupi kelalaian!” cecar Sardin dengan nada pedas.
Insiden ini menunjukkan adanya jurang pemisah antara laporan administratif dan fakta pelayanan di lapangan. Jika benar hanya ada satu dokter, lantas di mana sistem manajemen krisis saat pasien darurat berdatangan? Bantahan warga atas keberadaan dokter di lokasi mengindikasikan adanya masalah kedisiplinan yang serius.
Publik Banggai Kepulauan tidak butuh alasan keterbatasan personil jika nyawa anak-anak menjadi taruhannya. Dinas Kesehatan Bangkep didesak untuk tidak tinggal diam dan segera mengevaluasi kepemimpinan Brusli I. Sabuntak di Puskesmas Totikum Selatan. Puskesmas seharusnya menjadi garda terdepan penyelamat nyawa, bukan tempat di mana pasien datang membawa harapan, namun pulang membawa kekecewaan karena kursi dokter yang kosong melompong.






