SUMBA TIMUR, BTN – Kepastian hukum di wilayah hukum Polres Sumba Timur kini menjadi tanda tanya besar. Kasus pengerusakan mobil pick-up Mitsubishi L300 milik Jendriel Dawa yang terjadi sejak 18 Januari 2026 lalu, seolah jalan di tempat. Lambannya penanganan perkara ini memicu kritik tajam: Apakah hukum hanya tajam ke bawah namun tumpul pada proses birokrasi? (28/03/2026)
Peristiwa mencekam ini bermula saat korban, Jendriel Dawa, bersama saksi Thomas Blegur melintasi wilayah Wanga. Meski sudah memberikan penjelasan kooperatif terkait muatan kayu bakarnya, korban justru dihadang massa di simpang PT Muria Sumba Manis.
Ironisnya, aksi anarkis justru memuncak di depan Polsek Pandawai. Di hadapan markas kepolisian tersebut, massa secara beringas menghantam kaca depan mobil hingga hancur. Teror berlanjut hingga wilayah Kambaniru dengan aksi pelemparan batu yang mengakibatkan korban terluka akibat serpihan kaca.
Hingga memasuki akhir Maret 2026, penanganan kasus ini dinilai “masuk angin”. Meski penyidik sempat mengamankan dua terduga pelaku, pihak kepolisian memilih tidak melakukan penahanan dengan dalih kejadian sudah berlangsung lama—sebuah alasan yang dinilai korban mencederai akal sehat hukum.
Kami datang meminta kepastian, tapi jawaban yang diterima justru membingungkan. Bahkan ada upaya menggiring opini seolah saya sudah tahu pelakunya, padahal itu tidak benar,” tegas Jendriel dengan nada kecewa saat mendatangi Polres Sumba Timur, Jumat (27/03/2026).
Ibu korban, Debrita Kana Raja, turut menumpahkan kekecewaannya. Alih-alih mendapatkan perkembangan signifikan, pihak keluarga justru diminta terus bersabar dengan alasan “banyak perkara lain”.
”Hukum tidak boleh kalah dengan alasan kesibukan. Kami adalah korban yang butuh perlindungan, bukan sekedar janji untuk bersabar,” ungkapnya.
Lambannya respon Polres Sumba Timur memicu reaksi keras dari publik. Masyarakat mendesak Kapolres Sumba Timur untuk segera mengevaluasi kinerja jajarannya yang menangani kasus ini. Jika di tingkat lokal menemui jalan buntu, maka Kapolri Jenderal Polisi diminta turun tangan untuk memastikan bahwa institusi Polri benar-benar melayani, bukan membiarkan laporan warga berdebu di meja penyidik.
Kasus ini menjadi ujian bagi kredibilitas Polres Sumba Timur: Berani menuntaskan, atau membiarkan citra kepolisian luntur di mata masyarakat?
(Piter).
Kabiro Sumba Timur.






