WAINGAPU, BATN – 23/06/2026, Batas geografis dan sekat samudra antara Pulau Flores dan Pulau Sumba seketika lebur dalam keanggunan simfoni budaya. Prosesi kolaborasi akbar antara adat Bajawa (Ngada) dan adat Kodi (Sumba Barat Daya) berlangsung penuh khidmat, kharisma, dan sarat makna filosofis pada Sabtu (20/6/2026).
Perhelatan kultural yang berpusat di Kota Waingapu ini digelar sebagai bagian dari rangkaian penyatuan dua keluarga besar melalui ikatan perkawinan suci. Dua insan yang mengikrarkan janji setia tersebut adalah putra terbaik asal Bajawa, Ofis Balu, dengan putri jelita berdarah Kodi, Cherensia Cetari Tende.
Pertemuan dua pilar tradisi besar di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini bukan sekedar seremonial pernikahan biasa. Momentum ini menjelma menjadi simbol kuat eksistensi persaudaraan, toleransi tingkat tinggi, serta bentuk penghormatan paling autentik terhadap nilai-nilai luhur titipan para leluhur yang masih kokoh di era modern.
Sepanjang prosesi berlangsung, tata cara adat Bajawa yang dikenal dengan ketegasan prinsip kekeluargaannya, bersanding harmonis dengan ritus adat Kodi yang sarat akan simbolisme kehormatan. Harmonisasi ini membuktikan secara nyata bahwa perbedaan rukun tradisi bukanlah jurang pemisah, melainkan kekayaan yang saling menggenapi.
Suasana sakral begitu terasa saat rumpun keluarga besar kedua mempelai mengikuti setiap jengkal prosesi dengan kepala tertunduk tanda hormat. Kehadiran para tetua adat yang mengenakan busana kebesaran motif tenun ikat khas daerah masing-masing, kian menambah bobot magis dan wibawa acara yang dibalut kehangatan batin tersebut.
Perkawinan antara Ofis Balu dan Cherensia Cetari Tende sejatinya telah melampaui sekat domestik penyatuan dua individu. Peristiwa ini adalah jembatan kultural yang mengawinkan dua warisan genetika peradaban yang memiliki kekayaan sejarah, pakem hukum adat, serta kearifan lokal yang sangat disegani di bumi Flobamora.
Fenomena ini juga menjadi batu ujian sekaligus bukti sahih bahwa di tengah gempuran arus globalisasi yang kian mengikis identitas bangsa, adat istiadat tetap memegang peranan krusial. Tradisi terbukti masih menjadi jangkar utama dalam menjaga stabilitas keharmonisan sosial serta mempertegas jati diri manusia NTT.
Dalam wejangan adatnya, sejumlah tokoh fungsionaris adat yang hadir menegaskan bahwa kolaborasi lintas budaya seperti ini merupakan bentuk pertanggungjawaban moral generasi masa kini kepada para leluhur. Langkah ini adalah investasi kebudayaan agar komitmen merawat tradisi tidak putus ditelan zaman.
Para tetua juga menaruh harapan besar di pundak generasi muda, khususnya bagi kedua mempelai, untuk menjadi garda terdepan dalam mempelajari, mendalami, dan mengamalkan nilai-nilai luhur tersebut. Budaya tidak boleh dibiarkan mati menjadi sekedar tontonan, melainkan harus tetap hidup sebagai tuntunan dalam bahtera rumah tangga.
Alur prosesi yang berjalan dengan sangat lancar, tertib, dan penuh kedamaian ini pun menuai apresiasi serta decak kagum dari ratusan pasang mata masyarakat yang memadati lokasi acara. Kedisipilnan jalannya prosesi mencerminkan kematangan koordinasi dan rasa saling menghargai yang tinggi antar kedua belah pihak.
Selain menjadi panggung perayaan kebahagiaan yang emosional bagi Ofis dan Cherensia, kegiatan kultural ini secara otomatis memperluas jejaring kekerabatan. Hubungan antarkeluarga yang kini resmi terikat dalam satu darah tunggal diharapkan dapat memicu kerja sama sosial yang lebih luas di masa depan.
Lebih jauh, peristiwa ini juga dipandang sebagai katalisator pemersatu yang sangat efektif bagi komunitas diaspora Flores dan Sumba. Interaksi dinamis ini memperkokoh rasa persatuan di tengah keberagaman etnis yang selama ini menjadi warna dasar kehidupan bermasyarakat di wilayah kepulauan Nusa Tenggara.
Setiap ritus yang dilewati—mulai dari tutur adat, pertukaran simbol budaya, hingga hidangan kasih bersama—menjadi saksi bahwa cinta mampu berbicara dalam berbagai bahasa daerah. Tidak ada ego kesukuan yang menonjol; yang ada hanyalah satu rasa sebagai sesama anak bangsa yang kaya akan peradaban.
Dengan terlaksananya kolaborasi epik adat Bajawa dan adat Kodi ini, sebuah standar baru tentang indahnya toleransi budaya telah berhasil ditunjukkan kepada publik. Pernikahan ini menjadi monumen hidup bahwa perbedaan jika dikelola dengan kasih dan rasa hormat akan melahirkan sebuah mahakarya kebersamaan yang indah.
Ketika tirai prosesi adat akhirnya ditutup, masyarakat yang pulang membawa serta sebuah optimisme baru. Nilai-nilai persaudaraan murni, ketulusan menghargai hakikat budaya, serta semangat persatuan sejati diharapkan akan terus menyala dan menjadi teladan abadi bagi generasi-generasi pembuat sejarah di masa mendatang.
Piter Kabiro, Sumba Timur






