KAIRO, BTN — Jeritan kecewa membumbung dari ratusan kilometer jauhnya. Sejumlah mahasiswa asal berbagai kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang bertaruh nasib menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, menyuarakan jeritan hati atas minimnya kepedulian pemerintah daerah. Hingga saat ini, janji manis bantuan pendidikan yang digemborkan Pemerintah Provinsi Sulteng melalui program unggulan Berani Cerdas dinilai tak kunjung menyentuh nasib mereka di rantau. 2/10/2026
Kekecewaan ini bukanlah tanpa alasan, melainkan akumulasi dari janji dan berkas pengajuan bantuan pendidikan yang seolah menguap begitu saja. Proses permohonan yang telah ditempuh melalui prosedur resmi dikeluhkan jalan di tempat tanpa ada secercah kepastian maupun iktikad baik dari pihak berwenang di daerah.
Perwakilan mahasiswa Sulteng di Mesir mengungkapkan bahwa berbagai jalur formal telah diupayakan demi memperjuangkan hak pendidikan mereka. Namun, ikhtiar panjang tersebut hanya membuahkan jalan buntu dan kekecewaan yang mendalam bagi para perantau muda ini.
”Sudah dua tahun berlalu sejak proposal bantuan kami serahkan langsung kepada Ibu Wakil Gubernur, namun hingga hari ini belum ada tanggapan ataupun realisasi sama sekali,” tegas salah seorang perwakilan mahasiswa di Kairo yang enggan disebutkan namanya, menahan ketidakpastian yang berlarut-larut.
Sikap diam pemprov ini bertolak belakang dengan jargon megah Program Berani Cerdas yang dipromosikan sebagai angin segar bagi dunia pendidikan Sulteng. Program strategis Pemprov Sulteng tersebut awalnya digadang-gadang menjadi sarana pemerataan dan perluasan akses pendidikan bagi seluruh anak daerah, baik yang menempuh studi di dalam maupun di luar negeri.
Di atas kertas, program tersebut mengalokasikan anggaran bernilai fantastis yang diperuntukkan bagi penyaluran beasiswa dan penyerapan beban biaya perkuliahan mahasiswa. Namun bagi para mahasiswa di Kairo, besarnya anggaran tersebut seolah menjadi ironi yang tak pernah menyentuh realitas perjuangan mereka sehari-hari.
Menjalani perkuliahan di negeri orang, para mahasiswa asal Sulteng harus berhadapan langsung dengan lonjakan biaya hidup dan menanggung beban studi yang tidak murah. Di tengah tekanan ekonomi global yang kian menghimpit, bantuan dari tanah kelahiran sebenarnya menjadi tumpuan utama untuk menyambung napas pendidikan mereka.
Harapan besar digantungkan agar Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah tidak menutup mata dan telinga terhadap kondisi warganya di luar negeri. Kehadiran nyata pemerintah daerah melalui realisasi Program Berani Cerdas sangat dinantikan guna menopang keberlangsungan studi sekaligus meringankan beban orang tua di kampung halaman.
Sikap apatis dan minimnya transparansi dari instansi terkait dipandang sebagai bentuk pengabaian terhadap potensi sumber daya manusia unggul yang sedang ditempa di salah satu pusat peradaban Islam tertua dunia. Para mahasiswa mendesak agar komitmen pembangunan manusia tidak sekedar diijajakan sebagai komoditas politik di atas panggung.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi, penjelasan, maupun klarifikasi dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah maupun pihak Wakil Gubernur terkait mengendapnya proposal bantuan mahasiswa Sulteng di Kairo tersebut.






