Scroll Untuk Lanjut Membaca

​AIRMADIDI, SULAWESI UTARA, BTN — 23 Juni 2026 — Suasana khidmat nan mengharukan menyelimuti perhelatan wisuda puncak Universitas Klabat (Unklab), Airmadidi, Minahasa Utara, pada Minggu, 21 Juni 2026 kemarin. Gema nama Marvel Matthew Sompotan, S.Kom., yang dibacakan oleh senat universitas dengan predikat kehormatan tertinggi Magna Cum Laude dari Fakultas Komputer, seketika mengubah ruang auditorium menjadi palung duka yang tak bertepi. Tepuk tangan penghargaan beralih menjadi isak tangis tertahan, manakala kursi yang seharusnya diduduki oleh wisudawan berprestasi tersebut tampak kosong melompong, menyisakan potret dirinya yang didekap erat oleh rekan sejawatnya.

​Hanya dua hari menjelang hari yang diimpikan sebagai puncak kebahagiaan keluarga, takdir memutus garis hidup pemuda cerdas ini secara mendadak. Marvel mengembuskan napas terakhirnya setelah mengalami insiden fatal—terpeleset di dalam kamar mandi area kampus—sebuah tragedi domestik di lingkungan akademik yang seketika merenggut seluruh masa depan emas yang telah dirajutnya dengan kerja keras. Kematian yang terjadi di episentrum pendidikan tinggi ini memicu gelombang pertanyaan kritis mengenai kelayakan, keselamatan, dan standardisasi sarana prasarana yang disediakan pihak universitas bagi mahasiswanya.

​Kritik tajam patut diarahkan pada aspek manajemen fasilitas universitas, sebab hilangnya nyawa seorang mahasiswa akibat kecelakaan di kamar mandi kampus bukan sekedar takdir tak terelakkan, melainkan sebuah alarm keras terhadap tanggung jawab institusi. Kampus swasta sekelas Unklab, yang memungut biaya pendidikan tidak sedikit, secara etis dan hukum wajib menjamin bahwa setiap sudut ruang publik, termasuk fasilitas sanitasi, memenuhi standar keselamatan tingkat tinggi guna mencegah insiden fatalitas universal. Absennya pengaman seperti karpet antislip atau desain drainase yang buruk di area basah, kini menjadi sorotan utama dalam insiden ini.

​Etika jurnalistik mengharuskan kita melihat melampaui seremoni formalitas untuk menyuarakan kedukaan beralaskan fakta objektif. Arlino, sahabat kental almarhum dari Fakultas Komputer, dengan mata berkaca-kaca di halaman kampus tak mampu menyembunyikan kepedihan mendalam yang merobek hatinya dan seluruh civitas akademika. Dalam penuturannya, kepergian Marvel adalah pukulan telak yang membuat seluruh mahasiswa tamatan merasakan kehampaan, mengingat almarhum adalah tiang penyangga moral yang selalu membawa kehangatan di tengah ketegangan akademis.

​”Marvel adalah sahabat terbaik kami di Kampus, dia sangat berprestasi. Banyak sekali yang merasa kehilangan figur sahabat sejati yang sebenarnya hari Minggu, 21 Juni 2026 ini berada di samping kami mengenakan toga wisuda. Namun nasib manusia, hanya Tuhan yang tahu,” tutur Arlino dengan nada suara yang bergetar menahan gejolak emosi.

​Arlino menceritakan secara runut betapa mendalamnya impresi kebaikan yang ditinggalkan oleh Marvel selama masa hidupnya berproses di Fakultas Komputer. Bagi rekan-rekan angkatannya, mendiang bukan sekedar mahasiswa pemburu nilai, melainkan sosok yang dikenal sangat ceria, terbuka, selalu menjadi penghidup suasana dalam setiap diskusi kelompok, dan memiliki pembawaan yang dekat dengan semua orang tanpa memandang sekat sosial. Ketulusan hatinya dalam membantu sesama mahasiswa yang kesulitan dalam memahami materi pemrograman komputer, menjadi warisan moral yang tak akan luntur oleh waktu.

​Solidaritas organik dan rasa kehilangan yang luar biasa itu kemudian dimanifestasikan oleh para mahasiswa tamatan dalam bentuk aksi simbolik yang menyayat hati pada ibadah persiapan wisuda, Sabtu, 20 Juni 2026. Dengan sisa kekuatan moral yang ada, para sahabat karibnya berinisiatif membawa dan mengarak foto Marvel Sompotan ke dalam barisan prosesi ibadah. Tindakan ini merupakan protes sunyi sekaligus penghormatan terakhir, menegaskan bahwa meski raga Marvel telah tiada, haknya untuk diakui sebagai bagian dari lulusan terbaik Fakultas Komputer tidak boleh direduksi oleh birokrasi upacara wisuda.

​Kendati demikian, di tengah duka kolektif ini, tajamnya pena pers harus mempertanyakan sejauh mana transparansi dan akuntabilitas pihak rektorat Universitas Klabat dalam merespons insiden fatal ini. Publik, terutama para orang tua yang memercayakan keselamatan anak-anak mereka pada lembaga ini, berhak mendapatkan kejelasan hasil investigasi internal terkait kondisi fisik kamar mandi lokasi kejadian. Menutup-nutupi fakta atau sekadar berlindung di balik narasi ‘musibah murni’ tanpa adanya evaluasi struktural massal terhadap seluruh fasilitas kampus, adalah bentuk pengabaian terhadap hak hidup mahasiswa.

​Sesuai Pasal 1 dan 3 Kode Etik Jurnalistik (KEJ), wartawan Indonesia wajib menguji informasi secara berimbang dan tidak mencampuradukkan fakta dengan opini yang menghakimi secara sepihak, namun pers tetap memegang fungsi kontrol sosial yang melekat. Oleh karena itu, investigasi atas pemeliharaan infrastruktur di Unklab harus dikawal ketat demi memastikan tidak ada kelalaian (negligence) dari pihak manajemen umum. Apakah lantai yang digunakan bersertifikasi antislip? Bagaimana frekuensi pembersihan dan pengawasan kondisi higienitas serta keamanan ruang mandi mahasiswa? Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut jawaban konkret, bukan sekedar rilis humas yang normatif.

​Kehilangan seorang putra terbaik berpredikat Magna Cum Laude adalah kerugian intelektual yang tak ternilai bagi daerah Sulawesi Utara. Di ruang akademik Unklab, Marvel telah membuktikan dedikasi luar biasa dengan meraih indeks prestasi kumulatif yang menempatkannya di jajaran elite lulusan Fakultas Komputer. Keberhasilan akademis tinggi di bidang ilmu komputer yang terkenal rumit ini menegaskan bahwa masa depannya sebagai calon teknolog andal sebetulnya telah terbentang luas, sebelum akhirnya patah oleh benturan fisik di lantai fasilitas publik yang kurang protektif.

​Tragedi ini seyogianya memicu reformasi total pada regulasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan universitas-universitas di Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi Utara. Kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading yang megah dalam mencetak lulusan berprestasi, tetapi rapuh dan abai dalam mitigasi risiko keselamatan fisik harian mahasiswa. Kampus harus bertransformasi menjadi ruang paling aman (safe space), di mana setiap koridor, ruang kelas, laboratorium, hingga toilet, dikontrol dengan parameter keselamatan klinis yang ketat guna mengeliminasi potensi kecelakaan sekecil apa pun.

​Bagi Ibu Vivi Rompas dan seluruh keluarga besar Sompotan-Rompas, kepedihan ini tentu merupakan badai psikologis yang teramat berat dan tak tergantikan oleh permohonan maaf apa pun. Ekspektasi melihat sang putra tercinta melangkah gagah ke podium wisuda dengan kalungan medali kelulusan terbaik, sirna dalam hitungan detik berganti baju duka dan peti mati. Pers nasional berdiri teguh bersama keluarga korban, tidak hanya untuk menyampaikan belasungkawa, tetapi berkomitmen menjaga agar api pencarian kebenaran dan perbaikan fasilitas publik kampus terus menyala demi mencegah jatuhnya ‘Marvel-Marvel’ berikutnya di masa depan.

​Selamat jalan, Marvel Matthew Sompotan, S.Kom. Nama dan pencapaian tertinggimu telah terukir abadi di lembaran sejarah Fakultas Komputer Universitas Klabat melalui pengumuman resmi senat wisuda. Dedikasi dedikatif, ketulusan budi, dan tawa ceriamu akan tetap hidup dalam sanubari para sahabat, sementara jejak kepulanganmu menjadi lembaran kritik berharga yang memaksa dunia pendidikan tinggi untuk lebih memanusiakan dan menjamin keselamatan nyawa para penuntut ilmu.

(Redaksi).