BTN — Kita kalah, Nak…”. Hari itu, berita yang kurang lebih senada datang: “Kita gagal, kita kalah lagi, Nak…”. Petikan dialog gubahan Pramudya dalam buku tersohornya “Bumi Manusia” ini mungkin cocok untuk menggambarkan suasana bathin Fabianus Tibo, Marinus Siwu, dan Dominggus da Silva, ketika mengabarkan kegagalan demi kegagalan mereka dalam mempertahankan the-right-of-life (hak azasi untuk hidup) mereka kepada anak dan keluarganya. 13/04/2026
Akhir drama tragis itu tuntas sudah di ujung bedil pengawal perkasa sang Negeri. Saya hanya termangu dan perlahan melambai tangan lesuh, dari kejauhan berguman “Selamat jalan, Paman…”
Tetapi jangan salah Nak, perjalanan itu sesungguhnya belum usai bahkan belum sepelemparan batu jauhnya. Perjalanan melelahkan dari suatu sandiwara kebodohan Negeri yang sedang dikibuli oleh para walinya sendiri.
Sungguh, suatu retorika permainan tingkat tinggi memang, sehingga jangankan para petani getah Beteleme Tua itu, para professor politik di universitas ternama Negeri ini tidak mampu membacanya. (Bilapun mereka tahu, mungkin karena mereka adalah perancangnya?).
Deklarasi Malino, suatu pertemuan spektakuler yang telah menelurkan “telur babon emas” bagi beberapa wali, namun di lain pihak telah membawa petaka bagi banyak orang.
Mudah ditebak mengapa Poso rusuh tiba-tiba, tanpa angin tanpa hujan, tanpa gelegar petir, langit runtuh menimpa rumah-rumah penduduk. Para “pemain lama” (meminjam istilah kepolisian) menebar benih demi kepentingan jangka pendek, menengah dan syukur-syukur jangka panjang, bila tidak terbaca oleh pihak lain.
Perkara demi perkara bernuansa “hawa panas SARA” ditiupkan ke masyarakat yang sebenarnya tidak punya persoalan apa-apa berkaitan dengan SARA, khsususnya agama, sejak ratusan tahun. Situasi konflik dipertengahan tahun 2000 itu akhirnya membawa para pemain ke sebuah pertemuan nasional “Deklarasi Malino” beberapa waktu kemudian.
Poso “tenang” sehingga prestise para pemain naik. Dan, segelintir mereka berhasil duduk di “singgasana kewalian tertinggi” di Negeri ini melalui pesta demokrasi 2004 (lebih dua per tiga tuaian suara dari Negeri Bagian Timur saat itu).
Tapi tidaklah pernah tercatat dalam sejarah peradaban manusia bahwa rencana yang didasari keburukan hati akan berhasil dengan baik, selamanya sebuah persekongkolan busuk pasti menuai badai yang lebih besar: “menabur angin, menuai badai”.
Mengapa? Lagi-lagi, ini sangat mudah ditebak, dan selalu kembali ke persoalan klasik “pembagian kue” Malino yang tidak kunjung memuaskan para pemain lainnya.
Dan untuk menunjukkan kemampuan kepada sesama pemain lama yang “ingkar janji” mereka menebar “angin-angin teror” walau skalanya kecil, jarang sekali melibatkan massa. Dan tentu saja pelibatan massa yang besar akan menyulitkan karena sesama pemain yang telah jadi wali akan bertindak lebih represif.
Lihat saja dengan baik teman, aparat di mana-mana, bukan untuk menangkap para penembak pendeta-pendeta dan penegak hukum yang bersih, yang berjatuhan silih-berganti. Mereka ditugaskan hanya untuk mengendalikan ekses ketidak-senangan sesama pemain lama agar tidak meluas dan lebih parah.
Tibo, dkk, tentu tidak sejauh ini memahami perkaranya. Mereka hanya punya “enam-belas” nama, tapi tidak mengerti bahwa angka 16 itu adalah hari ulang tahun seorang wali yang sedang menikmati hasil panennya. Angka enam-belas itu tidak akan pernah memberikan arti apapun bagi Tibo, dkk karena nama-nama itu masuk dalam agenda persekongkolan yang “baku” dan harus “diamankan”. Tinggallah mereka bertiga, sempat bertahan dalam penantian panjang menelisik hari-hari terakhirnya tanpa kepastian.
Hari ini, lihat dengan logika hati, betapa Malino sangat perkasa untuk meluluh-lantakkan Poso dan Sulawesi Tengah. Komandan Malino setuju, para pendekar kumpul lagi untuk reuni, dan tibalah sang Komandan itu di markas pertemuan akbar, Palu, Sulawesi Tengah, untuk duduk bersama, memperbincangkan “pembagian telur babon yang lebih adil”.
Bila ragu dengan analisa sederhana saya ini, silahkan tanya pada pak polisi, kenapa mereka tidak mampu menangkap para penembak yang katanya nama-nama dan ciri-ciri mereka sudah di “saku polisi”? “Mereka adalah pemain lama” kata seorang perwira.
Pertemuan kembali para deklarator Malino itu sesungguhnya adalah suatu keterpaksaan. Para wali awalnya berprasangka bahwa setelah ketiga tumbal (Tibo, dkk) “diselesaikan”, perkaranya sudah selesai atau setidaknya akan semakin kecil dan berakhir.
Telanjang mata kita melihat, saat eksekusi selesai dilakukan, sang wali langsung mengamankan situasi dengan memperingatkan massa agar tidak terpancing soal suku dan agama, sehingga perhatian masyarakat beralih dari rasa simpati kepada sikap berhati-hati terhadap SARA sesuai arahan pak wali.
Tapi, kalkulasi politiknya meleset, seorang pendeta harus “mampus” lagi, dan diyakini akan makin banyak “pendeta” lainnya yang menghadapi salak pistol para rekan pemain lama. (Catat ini, karena istri pendeta Kongkoli yang mati tertembak baru-baru ini adalah seorang polisi, sehingga memaksa para pemain Malino harus mengatur strategi kembali dengan baik, solidaritas kepolisisan sedikitnya berperan di sini).
Sayang sekali, para pelayan umat telah didor satu persatu, pergi sia-sia seakan hidup ini adalah rahmat titipan “para wali” yang boleh diambil kapan saja.
Kembali saya teringat Fabianus Tibo, dan kedua rekan senasibnya, Marinus Siwu dan Dominggus da Silva. Kini yang terbayang adalah saat-saat mereka menghadapi regu tembak (saya lebih senang menggunakan istilah “regu penyelamat para wali”).
Wartawan yang menyaksikan saat-saat pemberangkatan mereka ke hutan eksekusi (teman saya menggunakan istilah “ke bukit penyaliban”), melaporkan bahwa ketiga terpidana terlihat riang gembira, bahkan salah seorang diantanya sempat menitipkan senda-gurau kepada teman akrabnya, seorang petugas penjaga penjara, agar memelihara anaknya dengan baik.
Ada juga yang sempat meminta minyak wangi dan meminjam sisir untuk merapikan rambutnya bak seseorang hendak tamasya ke pantai losari. Yang paling mengesankan tentunya adalah pesan-pesan terakhir mereka kepada keluarga dan anak-anaknya.
Dengan keteguhan yang amat sangat indah, pesan Tibo kepada anaknya merupakan kekuatan cinta yang tiada kan tertandingi oleh apapun, tidak juga oleh kebesaran Negeri Indonesia . “Jangan ada dendam setelah papa mati, Nak…” (Tibo, F., 2006).
Pamanda, dengan keluguanmu engkau telah menghempas-hancur-lebur-binasakan nurani kami; dengan amanahmu itu, Negeri ini tidak bermakna sedikitpun di kaca mata kemanusiaan. Aku jadi malu, bahwa kita terlahir menjadi bangsa biadab, yang boleh “mengambil paksa” nyawa anak-anaknya demi “telur babon” Negeri antah-berantah.
Pamanda, dengan pesan penuh aroma cinta-mu itu, sesungguhnya engkau telah berhasil meletakkan “kepala negeri” ini ke bawah telapak kakimu. Engkau telah memenangkan pertarungan ini, Paman…!!!***
Utrecht, 30 Oktober 2006
(…Poso, dari kejauhan kutangisi nasibmu, bersama tanda tanya: adakah kita masih punya muka di depan keluhuran kemanusiaan kita?)
_Note: Tulisan ini saya buat pada akhir Oktober 2006 di Belanda; Pak Wali di artikel ini adalah dia yang saat itu menjabat sebagai Wapres._






