NGADA, NTT, BTN — Gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, memunculkan sorotan baru. Di tengah derasnya pemberitaan mengenai dampak gempa di Manggarai Barat, Manggarai Tengah, Manggarai Timur hingga Sikka, warga di Kabupaten Ngada dan Nagekeo mengaku menghadapi kondisi serupa, namun belum merasakan respons bantuan yang mereka harapkan. Jumat 21/08/2026
Keluhan tersebut datang dari warga Desa Ubedolumolo 1, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Kepala Desa Ubedolumolo 1, Simon Bheku, mengatakan pihaknya telah melakukan pendataan terhadap rumah warga yang terdampak gempa.
Menurut Simon, sekitar 90 persen rumah penduduk di wilayah yang dipimpinnya mengalami kerusakan ringan hingga berat.
“Kami hanya bisa memantau di desa yang kami pimpin. Kerusakan rumah warga sudah kami data dan akan kami lanjutkan ke pemerintah daerah,” ujar Simon kepada media.
Persoalan yang kini menjadi perhatian adalah belum terlihatnya bantuan yang diterima warga terdampak, meski masyarakat masih merasakan gempa susulan dan sebagian memilih mengungsi atau tidur di tenda karena takut kembali ke rumah.
Seorang warga yang meminta identitasnya tidak disebutkan mengaku kecewa dengan kondisi tersebut.
“Kami seperti bukan warga negara Indonesia. Bantuan dari pusat maupun provinsi yang kami lihat lebih banyak datang ke Manggarai dan Maumere. Bagaimana dengan kami di Ngada?” keluhnya.
Keluhan warga tersebut menjadi pertanyaan serius terhadap kecepatan pemerintah daerah dalam merespons bencana.
Di mana Bupati dan Wakil Bupati Ngada? Di mana anggota DPRD yang seharusnya menyuarakan kepentingan masyarakat?
Pertanyaan serupa juga diarahkan kepada Pemerintah Kabupaten Nagekeo. Pasalnya, berdasarkan informasi yang disampaikan warga dan pemberitaan mengenai aktivitas kegempaan, wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo, disebut sebagai salah satu kawasan yang berkaitan dengan pusat gempa. Kondisi ini semestinya menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan.
Media Brantas Tipikor juga berupaya meminta konfirmasi kepada pihak terkait. Namun, hingga berita ini disusun, nomor telepon yang dihubungi tidak aktif.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa penanganan korban gempa di sejumlah wilayah Flores belum berjalan secara merata.
Bencana tidak mengenal batas kabupaten. Karena itu, bantuan dan perhatian pemerintah semestinya juga tidak boleh berhenti hanya di daerah yang paling ramai diberitakan media.
Jika benar sebagian besar rumah warga di Ubedolumolo 1 mengalami kerusakan, maka pemerintah daerah dituntut bergerak cepat, bukan sekedar melakukan pendataan.
Pendataan harus diikuti tindakan.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan angka dan laporan kerusakan. Mereka membutuhkan tempat yang aman, bantuan darurat, makanan, perlindungan dan kepastian bahwa negara hadir ketika mereka menghadapi bencana.
Pertanyaan yang kini menggantung di tengah masyarakat adalah: apakah pemerintah harus menunggu ada korban jiwa terlebih dahulu baru bantuan diturunkan?
Pemerintah Kabupaten Ngada dan Nagekeo perlu memberikan penjelasan terbuka mengenai langkah penanganan pascagempa, jumlah rumah yang telah diverifikasi rusak, bantuan yang sudah disalurkan, serta kendala yang menyebabkan bantuan belum diterima sebagian warga.
Sorotan juga layak diarahkan kepada Pemerintah Provinsi NTT dan pemerintah pusat.
Presiden Republik Indonesia dan Gubernur Nusa Tenggara Timur diharapkan memastikan bahwa penanganan bencana di Flores dilakukan secara adil, cepat dan menyeluruh, termasuk bagi masyarakat di Ngada dan Nagekeo.
Sebab bagi warga yang rumahnya rusak dan setiap saat masih dihantui gempa susulan, negara bukan sekedar hadir dalam pemberitaan. Negara harus hadir di tengah mereka.
Reporter Berantas tipikornews.






