LUWUK – BTN 01/04/2026-Puskesmas (PKM) Simpong, Kecamatan Luwuk Selatan, mendadak jadi sorotan pada Rabu (1/4/2026). Di balik rilis resmi yang mengklaim adanya pelayanan humanis melalui inovasi “Popeda” (Poli Peduli Lansia), muncul tudingan miring bahwa aksi sigap petugas medis tersebut hanyalah “sandiwara” demi kebutuhan dokumentasi lensa kamera.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, suasana ruang tunggu memang tampak berbeda. Petugas apoteker terlihat melakukan sistem jemput bola kepada pasien lansia asal Desa Lumbe. Namun, keharmonisan tersebut dinilai kontras dengan keluhan yang beredar di kalangan pasien yang mengantre.

​Seorang pasien yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebutkan bahwa kegesitan petugas hari ini terasa tidak biasa. Ia mensinyalir pelayanan prima tersebut hanya muncul karena adanya aktivitas pemotretan oleh pihak tertentu.

​”Tumben, nanti mau difoto baru kalang kabut jemput pasien. Kalau tidak (ada kamera), biasanya diabaikan,” cetus salah satu pasien dengan nada sinis di ruang tunggu.

​Kritik pedas ini memicu pertanyaan besar,Apakah inovasi Popeda ini merupakan komitmen jangka panjang, atau sekedar respons reaktif untuk membantah isu negatif yang belakangan menerjang PKM Simpong?

​Kepala UPT Puskesmas Simpong mengklaim bahwa layanan satu pintu ini adalah bagian dari inovasi berkelanjutan. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa lansia berhak mendapatkan pemeriksaan hingga penyerahan obat tanpa harus berpindah tempat.

​Namun, jurnalisme warga dan fakta di lapangan menunjukkan adanya jurang pemisah antara “prosedur standar” dengan “kenyataan harian”. Pelayanan yang hanya prima saat ada sorotan media justru berpotensi mencederai kepercayaan publik terhadap fasilitas kesehatan tingkat pertama tersebut.

​Kode etik kesehatan dan pelayanan publik mengharuskan standar yang sama setiap hari, dengan atau tanpa kamera yang mengawasi. Jika PKM Simpong benar-benar ingin membantah isu negatif, maka konsistensi adalah kunci. Masyarakat tidak butuh foto yang indah di media, melainkan empati yang nyata di setiap antrean.

​Kini, publik menanti apakah aksi “jemput bola” ini akan terus bertahan besok, atau kembali layu setelah lampu kamera dipadamkan.

(Red)