SUMBA TIMUR – BTN 13/04/2026-Slogan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” seolah menjadi pepesan kosong bagi 157 siswa di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Palakahembi, Desa Palakahembi, Kecamatan Pandawai. Di balik megahnya narasi transformasi pendidikan nasional, sekolah ini justru sekarat akibat krisis tenaga pengajar yang masuk dalam tahap darurat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Bagaimana tidak, institusi pendidikan yang seharusnya menjadi kawah candradimuka bagi generasi penerus Sumba Timur ini hanya memiliki dua orang guru untuk melayani enam tingkatan kelas. Sebuah rasio yang tidak hanya tidak masuk akal, tetapi juga menghina akal sehat dunia pendidikan.

​Kondisi ini memicu gelombang protes dan keprihatinan mendalam dari para orang tua murid. Proses belajar mengajar di SDK Palakahembi saat ini lebih mirip dengan simulasi bertahan hidup daripada kegiatan akademis. Dua guru yang tersisa dipaksa melakukan “akrobat” pedagogi, membagi raga dan pikiran untuk mengawasi ratusan anak dari kelas satu hingga kelas enam secara bergantian.

​“Bagaimana anak-anak kami bisa pintar jika negara absen di ruang kelas mereka? Sekolah sebesar ini diperlakukan seolah-olah tidak ada harganya. Ini bukan mendidik, ini menelantarkan masa depan!” cetus salah satu orang tua murid dengan nada yang bergetar menahan amarah kepada wartawan, Senin (13/4).

​Ketimpangan ini semakin menyayat hati mengingat status sekolah ini sebagai institusi Katolik, namun ironisnya, tidak ada satu pun guru agama Katolik yang ditempatkan di sana. Roh pendidikan karakter yang menjadi ruh sekolah ini seolah dipadamkan secara perlahan oleh sistem birokrasi yang tumpul.

​Kebijakan pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), baik paruh waktu maupun penuh waktu yang digembar-gemborkan pemerintah pusat dan daerah, nyatanya hanya menjadi fatamorgana bagi warga Palakahembi. Masyarakat menilai distribusi guru di Sumba Timur sangat timpang dan diskriminatif terhadap sekolah-sekolah di wilayah perdesaan.

​Masyarakat kini menagih keberanian dan nurani Bupati, Wakil Bupati, hingga para anggota DPRD Sumba Timur yang terhormat. Mereka didesak untuk melepaskan kenyamanan kursi empuk di kantor dan segera turun ke lapangan guna melihat langsung potret buram pendidikan di SDK Palakahembi.

​“Kami sudah bosan mendengar janji dan laporan di atas kertas. Pemerintah jangan hanya bekerja dari belakang meja! Turun ke sini, lihat anak-anak kami yang haus ilmu tapi kekurangan penuntun. Jangan-jangan, SDK Palakahembi hanyalah puncak gunung es dari bobroknya distribusi guru di daerah ini,” tambah warga dengan nada sinis.

​Upaya konfirmasi telah dilakukan terhadap Kepala Sekolah SDK Palakahembi guna memperjelas langkah darurat yang diambil sekolah. Namun, hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan seolah “menelan bumi”. Nomor telepon yang dihubungi dalam keadaan tidak aktif, menambah panjang daftar kebuntuan komunikasi dalam krisis ini.

​Kini, bola panas berada di tangan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Timur dan Yayasan Pendidikan (Yapnusda). Tanpa langkah konkret dan penempatan guru segera, masa depan 157 anak di Palakahembi sedang dipertaruhkan di meja judi birokrasi yang lamban.

​Masyarakat menuntut aksi, bukan sekedar janji-janji manis di musim politik. Sebab, setiap hari yang berlalu tanpa guru adalah satu hari pengkhianatan terhadap hak anak-anak Sumba Timur untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

​(Piter – Kabiro Sumba Timur)