Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sumba, BTN — Kehidupan sosial masyarakat Sumba memiliki akar sejarah panjang yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. 29/04/2026

Sumber terpercaya/Rato Adat Loura, Ngongo Rato Dan Ngongo Naru menjelaskan bahwa pada dasarnya, Sumba sudah didiami oleh gelombang migrasi dari Hindia Belakang. “Rutenya transmigrasi ke Malaka – Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Flores, lalu ke Sumba,” ungkapnya. Ia menyebut prinsip persebaran awal dikenal dengan ungkapan _Pitu Dani Loura – Walu Dani Awang_, yakni tujuh rombongan ke Loura dan delapan rombongan ke wilayah timur. “Secara garis besar seperti itu,” yang artinya  kata sumber.

Masuk ke Pulau Sumba melalui Tanjung Sasar, para leluhur datang berkelompok menggunakan perahu. Setibanya di darat, mereka bertanya kepada seorang ibu atau perempuan Sumba yang pertama dijumpai. Rombongan ini dipimpin oleh tokoh dari kalangan Karaton bernama Ata Gae, sehingga wilayah itu kini dikenal sebagai Kecamatan Umbu Ratu Nggay.

Setibanya di darat, mereka membawa _Api Ida Badda – Wee Ida Rotoka_, artinya membawa api dari seberang dan air dari muara. “Dengan bekal itu mereka membentuk kelompok yang menjadi sebuah suku atau kabisu,” jelas sumber.

Suatu saat, ada seorang bapak bernama Nabi Pullu dengan istrinya bernama Rambu Pekalongan yang dituakan. “Dan kami Loura dalam ritual adat, bapak itu yang disebut: _Mamana Pa Mama Yemmi_, artinya Bapak yang memberi makan dan Ibu yang memberi minum,” ujarnya. Sehingga puncaknya semua kelompok tadi berkumpul dan bermusyawarah di Yawila.

Suatu saat pula Nabi Pullu kepada kelompok-kelompok menyampaikan pembagian wilayah. Dalam prosesnya terjadi benturan dengan salah satu suku, yakni Suku Lobo.

Selanjutnya setelah berdomisili dan menetap, akhirnya masing-masing kelompok mengatur diri. Mereka bergerak menuju Totok/Loura. “Di situ tempat tinggal nenek moyang tersebut bersama beberapa suku seperti Kabisu Keti, Weeliti, dan kabisu lainnya,” pungkas sumber.

Kisah ini menjadi dasar tatanan sosial, persebaran kabisu, dan batas wilayah adat di Loura yang masih dipegang hingga kini.

 

**** Berantas TipikorNews Co.id ****