BANGGAI KEPULAUAN –BTN 26/03/2026- Masalah terbesar di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) bukanlah lihainya para pelaku penyimpangan bersembunyi, melainkan tebalnya tembok kebungkaman di tengah masyarakat. Fenomena “masa bodoh” ini dinilai sebagai racun yang mematikan nalar kritis dan membiarkan ketidakadilan tumbuh subur di depan mata.
Tokoh muda, Muhammad Saleh Gasin, melontarkan kritik pedas terhadap sikap apatis yang kian membudaya. Menurutnya, pembiaran terhadap pelanggaran,sekecil apa pun,adalah bentuk pengkhianatan terhadap daerah sendiri.
“Masalah kita bukan sekedar adanya pelanggaran, tapi karena terlalu banyak orang yang tahu tapi memilih bisu. Diamnya rakyat adalah napas bagi para pelanggar aturan,” tegas Saleh Gasin dengan nada bicara yang tajam.
Ia menyoroti bagaimana praktik-praktik yang merugikan publik seringkali dianggap sebagai “hal lumrah” atau sekadar urusan orang lain. Pola pikir defensif inilah yang menurutnya menjadi pintu masuk bagi rusaknya tatanan birokrasi dan sosial di Bangkep.
Saleh Gasin memperingatkan bahwa ketika sebuah kesalahan dibiarkan tanpa teguran, lambat laun masyarakat akan menganggapnya sebagai kebenaran baru. Inilah “kiamat kecil” bagi penegakan hukum dan moral di daerah.
“Kalau kita terus menganggap penyimpangan sebagai hal biasa, maka jangan heran jika anak cucu kita nanti menganggap korupsi dan pelanggaran adalah standar kehidupan. Itu bukan sekadar berbahaya, itu bunuh diri massal bagi masa depan daerah,” ujarnya tanpa tedeng aling-aling.
Bagi Saleh Gasin, keberanian warga untuk bersuara bukan lagi sekedar himbauan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan Bangkep dari kehancuran sistemik. Ia meminta masyarakat tidak terjebak dalam rasa takut yang semu.
Jangan Tunggu Viral,Kepedulian harus dimulai dari hal kecil, bukan menunggu kasus meledak di media sosial. Satu suara mungkin lemah, tapi ribuan suara yang menuntut kebenaran adalah gelombang yang tidak bisa dibendung oleh kekuasaan mana pun.
Tidak perlu menjadi pakar hukum untuk peduli. cukup miliki hati nurani untuk mempertanyakan apa yang terlihat janggal.
Menutup pernyataannya, Muhammad Saleh Gasin memberikan pesan yang cukup menohok bagi siapa saja yang masih memilih untuk menutup mata dan telinga atas carut-marutnya kondisi daerah.
“Jika hari ini Anda melihat ketidakbenaran dan memilih diam, maka jangan pernah mengeluh saat keadaan memburuk. Jangan salahkan nasib, jangan salahkan pemerintah, salahkan diri Anda sendiri karena telah membiarkan kehancuran itu terjadi,” pungkasnya.
Redaksi






